Selasa, 09 Maret 2021

PEMURNIAN GARAM DAPUR

     Natrium klorida terdapat dalam air laut (3,8%), air laut merah mengandung 23,2 % natrium klorida. Diperkirakan bahwa didalam lautan terdapat 4x1015 ton natrium klorida. Dieropa dan diamerika terdapat lapisan batuangaram jauh dibawah permukaan tanah, yang mengandung kurang lebih 70 % NaCl. Garam dapur yang untuk membuat ikan asin umumnya masih kotor dan masih mengandung kalium dan magnesium sulfat, demikian juga garam dapur yang digunakan ibu-ibu rumah tangga dalam memasak, umumnya masih kotor. Dalam arti masih banyak terdapat unsur atau senyawa lainnya. Oleh karena itu untuk memperoleh garam dapur yang murni, terlebih dahulu harus membebaskan kation-kation dan anion-anion lain tersebut. secara sederhana NaCl yang baik dapat diperoleh melalui prinsip pemurnian dan rekristalisasi. Natrium klorida murni dapat dibuat dengan jalan mengalirkan gas HCl kedalam larutan jenuh natrium klorida yang kotor. sementara gas HCl dapat diperoleh dengan mereaksikan NaCl dengan H2SO4 pekat. Larutan jenuh garam ini pada 15℃ mengandung 35,5 bagian garam dan 100 gram air dan kelarutannya betambah sedikit demi sedikit jika suhu dinaikkan. proses rekristalisasi dibuat dengan mencuci endapan yang terbentuk dengan sedikit air dingin dan dikeringkan pada suhu 200 derajat celcius kemudian ditimbanglah garam murni yang didapatkan.

Sabtu, 25 April 2020

JURNAL PERCOBAAN 8 KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN KOLOM

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                                                             2020


I. Judul : Kromatografi Lapis Tipis dan Kolom
II. Hari, tanggal : Rabu, 29 April 2020
III. Tujuan
       Adapun tujuan dari percobaan ini ialah :
  1. Memahami teknik-teknik dasar kromatografi lapis tipis dan kolom.
  2. Membuat plat kromatografi lapis tipis dan kolom kromatografi.
  3. Memisahkan suatu senyawa dari campurannya dengan kromatografi lapis tipis dan memurnikannya dengan  kolom.
  4. Memisahkan pigmen tumbuhan dengan cara kromatografi kolom.
IV. Landasan Teori
     Metode kromatografi merupakan analisis kualitatif dan kuantitatif.  Suatu campuran dapat dipisahkan salah satu cara, misalnya dengan metode kromatografi  yang didasarkan pada persebaran zatnya yaitu fase gerak dan diam. Dari fase tersebut memiliki koefisisen distribusi yang berbeda ini merupakan prinsip penting dari kromatografi. Pemisahan yang sempurna akan terjadi bila campuran senyawa dalam komponen pada fasa (bergerak dan diam) bergerak dengan kecepatan yang berbeda ( Tim kimia organic I, 2020).
     Teknik analisis dengan kromatografi dapat digmanfaatkan sebagai pemisah antara campuran komponen dengan penyusunnyaKomponen-komponen akan terpisah antara fase diam dan fase gerak dikarenakan afinitas dan gaya adhesi dari zat-zat yang dipakai berbeda. Jika suatu zat (analit) cepat menyerap suatu fasa diam maka akan sukar larut pada fasa geraknya sehingga memungkinkan waktu tinggalnya lebih lama didalam kolom dan sebaliknya. Hal ini merupakan prinsip dari cara pemisahan kromatografi (syamsurizal.staff.unja.ac.id).
         Menurut kurniawan (2004),  Pada kromatografi dikenal beberapa istilah yang sering digunakan yaitu:
1. fase diam : pelarut dalam kolom
2. fase gerak : zat akan dikeluarkan dari kolom
3. Eluen : campuran pelarut sebagai fase gerak yang dapat membawa zat sampel di fasa diam.
4. elusi : proses pemisahan campuran dengan berbagai pelarut pada kromatografi kolom

5. analit : zat yang telah terpisah pada kromatografi kolom 
           Menurut nurbaiti (2016), kromatografi terdiri dari 5 jenis, yaitu :
1. kromatografi kertas : pemisahan dengan kertas selulosa murni berdasarkan afinitas dan jenis pelarutnya.
2. kromatografi lapis tipis (TLC) : pemisahan berdasarkan jarak pelarut membawa sampel
3. kromatografi kolom : pemisahan komponen zat dari campuran zatnya.
4. kromatografi gas : pemisahan campuran zat menjadi komponen menggunakan gas melewati serapan yang diam.

         Noda yang mau diamati pada kromatografi akan tampak apabila sampel ditotolkan pada sebuah plat tipis seperti kaca. Silika gel biasa digunakan sebagai fase gerak dengan berbagai fase diam seperti  n-heksan, kloroform, etil asetat, n-butanol , dll. Ini merupakan bentuk dari kromatografi lapis tipis sementara untuk kromatografi kolom juga bisa digunakan fase gerak yang berbeda lebih dari satu dengan satu pelarut sebagai fase diam di dalam kolom untuk menganalisis satu buah sampel yang nantinya fase gerak akan turun dengan warna yang berbeda ( Asih, 2009).

V. Alat dan bahan
1. Bahan
*      Petroleum eter
*      Aseton
*      Daun sampel
*      Sukrosa
*      CaCO3
*      Selulosa
*      Benzene
*      Methanol
*      Kristal iod
*      Kertas saring
*      Silika gel
*      Asam asetat
*      Eter
*      Kafein 


2. Alat
*      Plat kaca
*      Tabung reaksi
*      Gelas kimia
*      Cawan petri
*      Pipa gelas kapiler
*      Pensil
*      Gelas piala
*      Lumpang
*      Rotavor
*      Oven, kolom dan pipet tetes
*      

VI. Prosedur kerja
A. Kromatografi lapis tipis
1. Penyiapan plat
  1. Dibersihkan plat kaca kecil dengan air dan methanol, lap dan keringkan dalam oven.
  2. Disusun 5 plat diatas kaca dan rekatkan dengan pita selotip.
  3. Disebarkan suspensi diatas plat dan ratakan pada kaca dengan satu gerakan dan keringkan dalam oven. NB: suspensi (5 gr silika gel + 10 ml methanol + air suling).

2. Penyiapan bejana
  1. Dibuat larutan metano;l : asam asetat : eter : benzene (0,10 : 1 : 3 : 5,9) ml dalam gelas kimia.
  2. Dilapisi dinding gelas kimia dengan kertas saring lalu tutup dengan cawan petri.

3. Penyiapan contoh
  1. Dikerus 2 buah tablet kandungan kafein dan di ekstraksi dengan 2 ml methanol.
  2. Dilarutkan 50 mg kafein standar dengan 1ml methanol dlam tabung reaksi.
  3. Masing- masing ekstrak dan larutan di ambil dengan pipa gelas kapiler dan ditotolkan diatas plat TLC berjarak 1 cm dari tepi plat kaca.
  4. Dikeringkan noda sample lalu dibubuhkan lagi 3-5 kali disetiap kali kering.

4. Pengembangan
  1. Dimasukkan plat kedalam bejana pengembang dibiarkan sampai pelarut mencapai 1 cm dari tepi atas plat.
  2. Diangkat plat dari bejana dan tandai garis depan pelarut dengan pensil lalu keringkan.
  3. Dimasukkan plat kedalam gelas piala berisi Kristal iod dan tunggu sampai noda tampak.
  4. Diangkat plat dan tandai noda lalu hitung dan bandingkan Rf nya.

B. Kromatografi kolom
1. Penyiapan sampel
  1. Dilumatklan 10 daun dan rendam 1 jam dalam campuran 90 ml petroleum eter + 10 ml benzene + 30 ml methanol.
  2. Disaring lalu ekstraksi  dengan 40 ml air 4 kali.
  3. Dipisahkan lapisan organic dan keringkan dengan Na-sulfat anhidrat llau saring lagi.
  4. Dipekatkan lapisan organic dalam rotavor.

2. Penyiapan kolom
  1. Disiapkan kolom kromatografi dan pipet tetes dan disumbat bagian bawahnya.
  2. Dimasukkan suspensi selulosa (0,5 gr selulosa+10 ml PE) Sampai 3-4 CM.
  3. Dimasukan  suspensi kalsium karbonat ( 1 gr CaCO3 + 10 ML PE) Sampai 3-4 cm.
  4. Dimasukan suspensi suksrosa ( 2 gr sukrosa + 10 ml PE) sampai 3-4 cm
  5. Dimasukan terus pelarut jangan sampai suspensi kering dan udara masuk.
  6. Diletakkan kertas saring diantara dan diatas timbunan suspensi agar permukaan dan aliran atau sampel tidak terganggu.

3. Kromatografi kolom
  1. Dimasukan larutan sampel  1 cm setelah permukaan pelarut turun.
  2. Setelah mendekati permukaan penjerap bilas bagian dalam kolom dengan campuran PE : aseton (6:1) dan terus dimasukkan.
  3. Dilihat pemisahan melalui sejumlah pita berwarna. ( pita oren bergerak paling cepat, disusul pita hijau, pita kuning dan hijau).
  4. Ditampung tetesan warna yang keluar dari kolom dengan tabung reaksi secara berbeda.
  5. Dihentikan pemberian pelarut jika semua warna telah keluar dari kolom.


link vidio :
https://youtu.be/6Xk-OuK3hz8

https://youtu.be/2R2iq_XR1IY

Permasalahan
1. Pada kromatografi lapis tipis di vidio 1 terlihat ketika noda sampel ditotolkan pada kaca digunakan 4 pelarut organik yang berbeda. Analisislah tujuan digunakannya 4 pelarut tersebut.
2. Di vidio pertama sebelum Rf nya diukur plat kaca disemprot lalu di keringkan kembali. Apa maksud dari perlakuan tersebut ?
3. Mengapa komponen bisa melewati fase diam padahal awalnya komponen berada dipermukaan atas sampel pada kromatografi kolom di vidio 2 ?

Jumat, 17 April 2020

JURNAL PERCOBAAN 7 PEMBUATAN SIKLOHEKSANON

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                                                             2020


I. Judul : PEMBUATAN SIKLOHEKSANON
II. Hari, tanggal : Rabu, 22 April 2020
III. Tujuan
       Adapun tujuan dari percobaan ini ialah :
  1. Melakukan oksidasi alkohol sekunder alisiklik
  2. memahami bahwa tidak hanya  alkohol sekunder alifatis biasa saja yang dapat dioksidasi tetapi juga alkohol sekunder alifatik
IV. Landasan Teori
          Pada senyawa- senyawa organik, reaksi yang terjadi sering dikaitan dengan adanya oksidasi dan reduksi. Jika suatu senyawa hasil mengikat oksigen dan melepas hydrogen  maka itulah oksidasi dan sebaliknya disebut reduksi.  Salah satu senyawa organic yang dapat mengalami oksidasi adalah alcohol, dengan golongan primer, sekuder dan tersier. Oksidasi alcohol primer akan mengahsilkan aldehid, sementara oksidasi alcohol sekunder akan menghasilkan senyawa keton. Alcohol tersier tidak dapat dioksidasi Karena tidak mengikat atom H pada atom karbonnya (Frieda,2000)
        Menurut tim kimia organik I (2020), Sikloheksanon terbentuk dari alcohol sekunder yang mengalami oksidasi dalam suasana asam dengan kalium dikromat sebagai katalis dengan persamaan reaksi :
C6H11OH  Ã  C6H10=O + H2O

Atom C dalam sikloheksanol memiliki tingkat oksidasi 0 smentara pada sikloheksanon 2+. Suhu optimum terjadinya reaksi umumnya 55-60 ℃. Sifat fisiknya merupakan dasar pemisahan dan pemurnian sikloheksanon dari reaksinya.
         Sikloheksanon ( C6H10O) merupakan senyawa yang sukar larut dalam air. Biasanya berupa cairan berminyak kekuningan dengan bau cukup menyengat. Alcohol sekunder siklik yang dioksidasi akan membentuk keton siklik yang direaksikan dalam suasana asam dan oksidator yang baik maka akan membentuk sikloheksanon (Liang, 2012).
        Pembuatan sikloheksanon biasanya menggunakan kalium dikromat sebagai katalis. Namun, perlu diketahui bahwa oksidator kuat ini berbahaya karena sifatnya yang karsinogenik sehingga apabila terhirup akan mengganggu system pernapasan dan juga bisa merusak lingkungan. Untuk itu sangat diperlukan kehati-hatian dalam penggunaanya. Pengganti katalis dalam pembuatan sikloheksanon bisa menggunakan natrium hipoklorat ( NaClO) yang sama-sama merupakan oksidator dan lebih aman digunakan dibanding kalium dikromat ( Lusi, 2014).
        Sikloheksanon merupakan pelarut dengan titik didih tinggi yaitu 155,7 ℃ serta merupakan bahan baku pembuatan kaprolaktam, asam adipat dan nilon. Sikloheksanon juga dapat digunakan sebagai zat penstabil pewarna, penghilang cat, pernis serta agen pembersih (Putu, 2015).



V. Alat dan bahan
1. Bahan

  • kalium dikromat
  • asam sulfat pekat 
  • sikloheksanol
  • petrolium eter
  • magnesium sulfat anhidrat

2. Alat

  • gelas kimia
  • erlenmeyer
  • labu bundar
  • alat destilasi
  • corong 
  • penangas udara

VI.    Prosedur kerja
1. 20,5 gr kalium dikromat + 100 ml air + 18 gr H2SO4 pekat  dilarutkan dalam gelas kimia, dinginkan.
2. dimasukkan 10,5 ml sikloheksnol + larutan dikromat dalam erlenmeyer lalu digoncang. larutan akan menjadi panas lalu dinginkan 1/2 jam sambil digoncang hingga suhu campuran mencapai 60 
3. dipindahkan larutan dalam labu bundar + 100 ml air.
4. dipasang pendingin untuk destilasi. destilasi campuran sampai destilat mencapai 65 ml yang terdiri dari 2 lapisan, air dan sikloheksanol.
5. dijenuhkan dengan 13 gr NaCl, lalu dipisahkan lapisan atas (sikloheksanon).
6. diekstaksi lapisan air dengan 3 gr natrium atau magnesium sulfat anhidrat lalu disaring lagi dengan destilasi kecil. pisahkan pelarutnya dengan cara destilasi diatas penangas air tanpa api.
7. diresidu sikloheksanon diatas penangas udara
8. ditentukan indeks didih 154-156  dan indeks biasnya.
9. dari hasil percobaan dihitung rendemen praktis dan rendemen teoritis


Permasalahan 
1. Reaksi apa yang menyebabkan larutan sampel mengalami perubahan warna menjadi hitam pada vidio diatas ?
2. Dari pembuatan sikloheksanon berdasarkan vidio apa faktor yang paling mempengaruhi keberhasilan terbentuknya sikloheksanon ?
3. Setelah diperoleh destilat pada vidio diatas campuran dijenuhkan dengan NaCl lalu lapisan sikloheksanon dipisahkan. Apa tujuan dilakukannya penjenuhan dengan NaCl tersebut ?

Rabu, 08 April 2020

JURNAL PERCOBAAN 6 REAKSI REAKSI ALKOHOL DAN FENOL

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                                                             2020


I. Judul : Reaksi-reaksi Alkohol dan Fenol
II. Hari, tanggal : Rabu, 15 April 2020
III. Tujuan
       Adapun tujuan dari percobaan ini ialah :
  1. Mengetahui perbedaan sifat sifat alkohol dan fenol
  2. Memahami jenis jenis reaksi dan pereaksi yang digunakan untuk membedakan antara senyawa senyawa alkohol dan fenol.
  3. Memahami azas azas reaksi tersebut.
IV. Landasan Teori
            Pengujian terhadap suatu jenis alkohol dapat dilakukan dengan mereaksikannya dengan reagent tertentu. Letak gugus OH pada atom C akan menentukan jenis dan golongan dari suatu alkohol apakah itu primer, sekunder atau tersier karena cepat lambatnya reaksi bergantung pada jenis alkoholnya. Pengujian yang dilakukan digunakan untuk mengetahui struktur alkohol dalam suatu sampel alkohol (Tim kimia organik 1, 2020).
           Alcohol dan fenol memang sama-sama memiliki gugus OH namun, letaknya berbeda. Letak gugus OH pada alcohol adalah pada rantai C tetrahedral sementara gugus OH pada fenol terletak pada cincin benzene (cincin aromatic). Gugus OH pada alcohol dan fenol dapat mengikat molekul lain misalnya atom H membentuk H-OH (Wahyuningrum, 2014).
Alkohol selain sebagai desinfektan merupakan salah satu pelarut organic yang sering diartikan sebagai turunan dari alkana dengan bentuk R-H dan alkohol sangat reaktif terhadap api. Alcohol sangat mudah ditemukan dan bisa juga terdapat dalam ester, tapi reaksi-reaksi dari alcohol sendiri berbeda tergantung pada golongannya ( Besari 2008).
Fenol merupakan jenis alcohol yang lebih bersifat asam dan mudah melepas electron (oksidasi). Fenol sama sepeti alcohol bisa digunakan sebagai desinfektan karena sifatnya yang beracun biasanya pada uji ferric chloride, fenol akan mengalami perubahan warna menjadi gelap jika dicampurkan dengan besi (III) klorida (Riawan, 2007).
Alcohol dapat mengalami reaksi substisi membentuk alkil halide dan oksidasi. Melalui reaksi oksidasi alcohol dapat membuat terbentuknya senyawa dengan gugus fungsi turunan hirokarbon lainnya seperti aldehid, keton, ester dan asam karboksilat. Alcohol dan fenol juga dapat membentuk senyawa tak jenuh jika mengalami dehidrasi. Alcohol merupakan senyawa yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari untuk itu perlu dipelajari sifat serta reaksi yang terjadi pada alcohol dan fenol (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/) 
     
V. Alat dan bahan
1. Bahan

  • Larutan FeCl3 10%
  • 1-propano
  • n-butil alkohol
  • etilen glikol
  • resorsinol
  • 0-kresol
  • Larutan NaOH 10%
  • Reagent Lucas
  • Reagent Bordwell-Willman
  • Larutan Brom dalam air
  • Trifenil karbonil
  • Ethanol
  • 2-propanol
  • Sek-butil alkohol
  • Sikloheksanol
  • Fenol
  • Kolesterol
  • 2-naftol
  • Indikator pp
  • Aseton
  • Asam sulfat pekat
  • Asam asetat glasial

2. Alat

  • Tabung reaksi
  • Pengaduk
  • Pipet tetes

VI.    Prosedur kerja
6.1 Kelarutan
1. Didalam 6 tabung reaksi masukkan ½ mL atau 0,2-0,5 gr dari masing-masing senyawa berikut: etanol, n-butil, alkohol, ter-butil alkohol, sokloheksol, etil glikol dan fenol masing masing 2 ml
2. Aduk
3. Amati dan catat hasilnya
NB : (hati-hati) : fenol  jangan mengenai kulit. Bila mengenai kulit akan terbakar oleh fenol, bila terjadi cuci segera dengan air.

6.2 Reaksi dengan Alkali
1. 4 tabung reaksi yang berlainan masukkan ½ mL atau 0,2-0,5 gr dari masing-masing senyawa berikut: n-butil alkohol, sikloheksanol, fenol, dan 2-naftol.
2. Ditambahkan 5 mL larutan NaOH 10% ke dalam tiap tabung
3. Dikocok dan amati serta catat hasilnya.

6.3 Reaksi dengan Natrium
1. Ditempatkan 2 mL dari masing-masing senyawa berikut: dalma tabung reaksi kering berlainan 1-propanol, 2-propanol dan 0-kresnol (bila o-kresnol terbentuk Kristal, panaskan sedikit agar melebur).
2. Ditambahkan sepotong kecil logam natrium ke dalam larutan yang ada dalam tabung reaksi, catat hasilnya.
3. Ditambahkan ke dalam larutan yang diproleh beberapa tetes indicator phenolftalein dan catat hasilnya.
4. Tambahan etanol secukupnya untuk menghilangkan semua natrium yang belum berekasi, kemudia buanglah.
NB: Hati-hati : jangan buang isi tabung-tabung yang berisi natrium yang belum bereaksi ke dalam bak air, natrium bereaksi eksplosif dengan air.

6.4 Pengujian Lucas
1. Dimasukkan 2 mL reagent Lucas ke dalam empat tabung reaksi + 5 tetes alkohol yang akan diuji
2. Dikocok dan catatlah waktu yang diperlukan oleh campuran sehingga menjadi keruh atau memisah menjadi dua lapisan.
3. Ujilah : 1-butanol, 2-butanol, sikloheksanol, ter-butil alkohol dan catat hasilnya.
NB : Reagent Lucas : Larutan 340 gr ZnCl3 kering dalam 230 mL HCl pekat yang dingin, sambil didinginkan. Campuran ini menghasilkan 350 mL reagent

6.5 Oksidasi dengan Asam kromat (Pengujian Bordwell-Wellman)
1. Dimasukkan 1 mL aseton ke dalam lima tabung reaksi yang berbeda.
2. Di Tiap-tiap tabung tambahkan satu tetes cairan alkohol atau 10 mg Kristal alkohol yang hendak diuji dan goncanganlah hingga larutan menjadi jernih + satu tetes reagent Bordwell-Wellman sambil digoncang.
4. Ujilah alkohol berikut : 2-butanol, ter-butil alkohol, kolestrol dana trifenil karbonil.
NB: Reagent Bordwell-Walkman : 25 gr anhidrat kromatid + 25 ml H2SO4 pekat + 75 ml air suling.

6.6 Reaksi Fenol dengan Brom
1. Pada larutan 0,1 gr fenol + 3 mL air + air brom sambil digoncang sampai warna kuning tidak berubah lagi
2. Diamatilah.

6.7 Reaksi Fenol dengan besi III klorida
1. Di dalam 3 tabung reaksi yang berbeda dilarutkan satu atau dua Kristal atau 1-2 tetes senyawa yang akan diuji dalam 5 mL air.
2. Kedalam tiap tabung diberi 1-2 tetes FeCl3.
3. Diaduk dan amati hasilnya.
4. Uji fenol, resorsinol dan 2-propanol.

Permasalahan 
1. Dapatkah FeCl3 mengidentifikasi alkohol berdasarkan golongannya ?
2. Pada saat fenol ditambahkan dengan phthalic andhydride dan H2SO4 larutan sampel menjadi warna putih lalu dipanaskan. Dan setelah dituangkan dalan NaOH larutan menjadi warna pink. apakah perubahan warna tersebut sudah sesuai dengan hasil yang diharapkan ?
3. Pada vidio kedua apa yang membedakan jenis alkohol pada lucas tast dan apa yang menyebabkan hal tersebut berbeda ?

Selasa, 17 Maret 2020

JURNAL PERCOBAAN 5 REAKSI REAKSI ALDEHIDA DAN KETON

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020


I. Judul : Reaksi-reaksi aldehida dan keton
II. Hari, tanggal : Rabu, 18 maret 2020
III. Tujuan
       Adapun tujuan dari percobaan ini ialah :
  1. Memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil
  2. Memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton
  3. Menjelaskan jenis jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton
IV. Landasan Teori
     Gugus fungsi dari senyawa hidrokarbaon seperti aldehid ( RCOH) dan keton( RCOR') memiliki gugus fungsi hampir sama yaitu sama-sama memiliki gugus karbonil. Namun, demikian kedua gugus ini apabila membentuk senyawa memiliki sifat yang berbeda. Dari struktur dapat di lihat bahwa aldehid mengikat atom H pada gugus karbonil sementara keton tidak (Joan, 2011).
     Senyawa hidrokarbon yang mengandung gugus fungsi keton atau aldehid ternyata dapat diidentifukasi dengan penambahan reagensia tertentu. Senyawa yang diberi reagen ( basa + AgNo3) dan mengahsilkan cincin perak maka senyawa tersebut termasuk senyawa aldehid ini disebut uji tollens sementara keton cenderung memberikan bau yang enak (Svehla, 2011).
     Aseton merupakan pelarut yang sangat mudah larut baik pada air maupun senyawa organik maka dari itu wajar jika aseton sering di gunakan sebagai pelarut senyawa hidrokarbon meskipun aseton merupakan pelarut yang bersifat polar ( http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/).
     Menurut Dewan (2015), aldehida dan keton memiliki sifat fisik masing-masing yaitu :
1. Aldehid berbau tengik, berupa cairan pada suhu kamar kecuali HCHO. Keton memiliki bau yang enak, berupa padatan dan tak berwarna.
2. Aldehida titik didihnya lebih tinggi dari keton pada perbandingan yang sama karena aldehid mengikat atom H.
3. Aldehid isomerik titik didihnya lebih rendah dari keton, karena keton terdiri atas gugus alkil yang membuat nya memiliki efek induksi dan lebih polar.
4. gugus alkil ( R ) yang makin banyak membuat senyawa aldehid dan keton sifat polaritasnya rendah. Rantai aldehid dan keton (maks 4 atom karbon) mudah larut dalam air.
     Untuk membedakan antara aldehid dan keton dapat dilakukan dengan uji tollens. Senyawa yang merupakan anggota aldehid akan membentuk cincin perak pada wadah diakhir reaksi sementara keton tidak karena keton tidak bereaksi dengan reagen ini hal ini dikarenakan perbedaan kereaktifan keduanya (Tim kimia organik I, 2020)

V. Alat dan bahan
5.1 alat 
  • Tabung reaksi
  • Pipet tetes
  • Batang pengadil
  • Penangas air
  • Erlenmeyer
  • Termometer
  • Corong buchner
5.2 bahan
  • Asetaldehid
  • NaOH
  • Aquades
  • Ethanol
  • Aseton 
  • iodium iodida
  • HCl
  • Fenilhidrazin 
  • 2,4 dinitrofenilhidrazin 
  • NaHSO3
  • Pereaksi benedict 
  • Pereaksi tollens 
  • AgNO3
  • Benzaldehid 
  • Formalin 
  • Sikloheksanon
  • Kertas saring
VI. Prosedur kerja
6.1 Uji cermin kaca, tollens
1. Disiapkan empat tabung reaksi yang berisi pereaksi tollens ( cara membuat, 2 ml AgNO3 5% + 2 tetes NaOH 5% lalu tambahkan tets demi tetes sambil diaduk larutan amonium hidroksida 2% secukupnya ).
2. Diujilah benzaldehid, aseton, sikloheksanon dan formlin: dengan jalan menambahkan masing- masing dua tetes bahan tersebut ke dalam tabung uji.
3. Diaduklah campuran dan diamkan selama 10 menit dan amatilah apa yang terjadi.

6.2 Ujing fehling dan Benedict
1. masing-masing dari empat tabung reaksi tambahkan 5 ml pereaksi Benedict atau 5 ml pereaksi fehling yang masih fresh.
2. Larutan B = 346 gr natrium kalium tartrat atau garam Rochelle di daam larutan NaOH 10% artinya pereaksi fehling A dan B sama banyak baru dicampur. Ke dalam masing-masing tabung tambahkan beberapa tets bahan yang akan di uji. 3. Ditempatkan tabung reaksi dalam air mendidih selama 10-15 menit. Ujilah formaldehid, n-heptanaldehid, aseton dan sikloheksanon.

6.3 Adisi bisulfit
1. Dimasuklah 5 ml larutan NaHSO3 jenuh ke dalam erlenmeyer 50 ml dan diinginkan larutan dalam air es + 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk. Setelah 5 menit + 10 ml etanol untuk memulai kristalisasi.
2. Disaring kristal denga corong Hirsch. Apa yang akan terjadi bila kristal dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa tets HCL pekat.

6.4 Pengujian dengan fenilhidrazin
1. 5ml fenilhidrazin dalam tabung reaksi besar + 10 ml tetes bahan yang akan di uji.
2. Ditutup tabung reaksi dan guncangkan dengan kuat selama 102 menit hingga mengkristal.
3. Disaring kristal dengan corong hirch, cuci dengan sedikit air dingin dan rekristalisasi dengan sedikit metanol dan etanol.
4. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya. Lakukan pengujian terhadap benzaldehid dan sikloheksanon. Dengan cara yang sama gunakan 2,4 dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon. Tentukan titik lelehnya.

6.5 pembuatan oksim
1. Larutkan 1 gr hidroksilamin HCL dan 1,5 gr natrium asetat trihidrat di dalam 4 ml air, didalam erlemeyer 50 ml.
2. Dipanaskan larutan sampai 35 derajat celcius + sikloheksanon tutup labu dan goncangkan selama 1-2 menit, pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk.
3. Dinginkan labu dalam lemari es, saring kristal dengan corong hirch, cuci dengan 2ml air es, keringkan dan tentukan titik lelehnya.

6.6 Reaksi haloform
1. 5 tetes aseton dalam 3 ml larutan NaOH 5% + 10 ml larutan iodium iodida sambil digoncang-goncangkan sampai warna coklat tidak hilang lagi.
2. Iodofom yang berwarna kuning akan mengendap dan baunya yang khas. Pengujian dilakukan terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.

6.7 Kondensasi Aldol
A. 1. 0,5 ml asetaldehid + 4 ml larutan NaOH 1%, goncangkan dan catat baunya.
2. Didihkan campuran reaksi selama 3 menit. Catat hati-hati bau tengik dari krotonaldehid.

B. 1.  Susunlah peralatan untuk merefluks.
2. 50 ml etanol + 1 ml aseton + 2 ml benzaldehid + 5 ml larutan NaOH 5% campuran di refluks selama 5 menit.
3. Dinginkan labu dan kumpulkan krital dengan corong buchner, bisa di rekristalisasi dengan etanol. Tentukan titik lelehnya.


Permasalahan 
1. Mengapa pada beberapa percobaan perlu dilakukan pengocokan. Bukankah apabila zat sudah dicampurkan semua telah bereaksi sempurna ?
2. Pada test sodium bisulfat setelah di tetesi komponen organik larutan di tutup. Adakah pengaruh lain jika larutan tidak di tutup ?
3. Saat penetesan NaOH pada larutan m dinitrobenzena terjadi perubahan warna. Apakah NaOH dapat di gantikan oleh bahan lain ? 

Selasa, 10 Maret 2020

LAPORAN PERCOBAAN 4 REAKSI REAKSI HIDROKARBON



PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020



Untuk prosedur kerja dapat dilihat pada jurnal percobaan 4 di link ini : lisnaslbn28.blogspot.com

VII. DATA PENGAMATAN

1. Brom dan Karbon tetraklorida
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
1 ml alkana + 15 ml Brom dikocok dan diletakkan ditempat gelap dan ditutup
Warna larutan kuning lebih jernih
1 ml alkana + 15 ml Brom dikocok dan diletakkan ditempat terang dan ditutup
Warna larutan kuning gelap 

1 ml dietil eter + 15 ml Brom digoncang dan ditiup  
Terdapat L1 eter dan L2 Brom dan menimbulkan asap
1 ml dietil eter + 15 tetes benzena digoncang dan ditiup
Terdapat asap dan larutan menjadi keruh
2
1 ml minyak jelantah+ 3 ml H2SO4 digoncang

3 ml benzena + 1 ml H2SO4
Warna minyak yang kuning keruh menjadi hitam

Terbentuk 2 lapisan atas yang bening dan Lapisan bawah keruh.
3
3 ml kloroform + 1 ml minyak jelantah digoncang

3 ml air + 1 ml minyak jelantah digoncang
Warna larutan kuning keruh


Terbentuk L2 kuning keruh  dan L1 bening diantaranya ada gelembung.
              
2. Brom
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1


2
Tabung I 1 ml benzena + 3 tetes Brom 
Larutan menjadi kuning dibagian atas dan di bawahnya bening.
Larutan dipanaskan
Semua larutan menguap dan tak bersisa
Tabung 2 benzena + paku  + 3 tetes brom
terlihat warna kuning agak pudar pada larutan
 Larutan dianaskan
Larutan masih tersisa 

3. Larutan Kalium Permanganat
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1



2


3

4


5
Tabung Reaksi I di masukan 1 ml KMnO4 + 5 tetes n metana kemudian di goncangkan

Tabung reaksi II dimasukkan 1 ml KMnO4 + 5 tetes n heksana


Tabung reaksi III dimasukkan 1 ml KMnO4 + 5 tetes n heptana 
Dalam larutan ada warna kecoklatan



Larutan menjadi warna ungu tampak kemerahan

Larutan menjadi warna ungu pekat
Tabung Reaksi IV dimasukkan 1 ml KMnO4 + 5 tetes benzena



Tabung reaksi V dimasukan 1 ml KMnO4 + 5 tetes eter
Warna larutan tetap tapi terbentuk 2 lapisan

Larutan menjadi warna ungu kemerahan

4. Asam Sulfat Pekat
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1


2
2 ml asam sulfat pekat + 10 tetes eter lalu di guncang.

2 ml H2SO4 + 10 tetes n heptana lalu di kocok
larutan menjadi warna jingga dan terasa panas saat dikocok

Larutan tidak larut sehingga terbentuk 2 lapisan atas yang bening dan lapisan bawah agak keruh

5. Asam Nitrat
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
2

3

4
 4 ml asam nitrat + eter
Warnanya larutan bening
Ditabahkan batu didih kedalam tabung reaksi lalu dipanaskan
Warna larutan berubah menjadi kuning pekat (orange) dan mendidih sampai keluar tabung
Dituangkan kedalam gelas kimia berisi batu es 
Larutan berubah menjadi warna putih keruh
Diamati bau yang timbul
Bau larutan seperti bau bayclin (pemutih baju)

6. Bahan Tak dikenal
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
3 ml aquades + 1 ml benzena lalu dikocok
Terdapat 2 fasa yang berwarna jernih bagian atas dan bawah 
2
3 ml H2SO4 + 1 ml benzena
Terdapat 2 fasa, dibawah bening dan bagian atas keruh
3
2 ml benzena + 2 ml kloroform
Larutan menjadi satu fasa dimana larutannya jernih dan terdapat sedikit 

VIII. PEMBAHASAN

         Senyawa hidrokarbon yang direaksikan dengan unsur lain akan dapat berubah sifatnya meski demikian itu tetap merupakan senyawa turunan hidrokarbon. Contohnya adalah alkil halida yang terbentuk dari reaksi antara senyawa hidrokarbon dan unsur halogen (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id)
            Pada praktikum ini dilakukan 6 percobaan berdasarkan cara kerja untuk mengidentifikasi reaksi- reaksi senyawa hidrokarbon yang terjadi.
1. Brom dan tetraklorida
    Pada percobaan ini dilakukan 4 percobaan, yang pertama 1 ml alkana di reaksikan dengan 15 ml Brom ditutup hanya saja dibuat 2 perbandingan kondisi yaitu diletakkan pada tempat gelap dan terang. Sampel yang diletakan di tempat terang berubah menjadi warna kuning lebih jernih sementara yang ditempat gelap menjadi kuning lebih gelap. Percobaan kedua 1 ml dietil eter di reaksikan dengan 15 ml Brom dan ditabung yang lain dengan 1 ml alkana di reaksikan dengan 15 tetes benzena ternyata memberikan reaksi yang berbeda dimana pada 15 ml Brom dihasilkan 2 lapisan yaitu L1 eter dan L2 Brom juga menimbulkan asap. Sementara pada 15 tetes benzena larutan hanya berubah menjadi putih keruh meski sama-sama menimbulkan asap. Pada percobaan ke 3 dimana 1 ml minyak jelantah yang ditambahkan dengan 3 ml H2SO4 mengalami perubahan dimana warna kuning minyak jelantah menjadi warna gelap sementara pada penambahan 3 ml benzena ke dalam 1 ml H2SO4 terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan atas bening dan bawah keruh. Pada percobaan ke 4  3 ml kloroform yang direaksikan dengan 1 ml minyak jelantah menghasilkan warna kuning yang keruh sementara  Pada penambahan 3 ml air dalam 1 ml minyak jelantah terbentuk L2 kuning keruh dan L1 jernih dan diantara keduanya terdapat gelembung.

2. Brom

    Pada percobaan ini dilakukan 2 perbandingan dalam 2 tabung reaksi berbeda. Pada tabung I  1 ml benzena yang direaksikan dengan 3 tetes Brom ternyata semua larutan menguap dan tak tersisa larutan pada tabung saat di panaskan. Sementara pada tabung II benzena yang diberi 3 tetes brom dimasukan sebuah paku, sehingga pada larutan terlihat warna kuning pudar dan ketika dilakukan pemanasan dalam tabung reaksi masih tersisa larutan sampel.

3. Larutan kalium permanganat

    Pada percobaan ini dilakukan 5 perbandingan sampel yang sama-sama di reaksikan dengan KMnO4. Pada tabung I ditambahkan dengan 5 tetes n metana menghasilkan warna larutan yang ada warna kecoklatannya. Pada tabung II ditambahkan 5 tetes n heksana menghasilkan larutan warna ungu tampak kemerahan. Pada tabung III ditambahkan 5 tetes n heptana menghasilkan warna ungu pekat. Pada tabung IV ditambahkan 5 tetes benzena dan pada larutan terbentuk 2 lapisan sementara pada tabung V yang ditambahakan 5 tetes eter di hasilkan larutan bewarna ungu kemerahan.

4. Asam Sulfat Pekat
    Pada percobaan ini 2 ml asam sulfat yang direaksikan dengan 10 tetes eter menghasilkan larutan yang berwarna jingga dan mengahsilkan panas ketika diguncang. Sementara ketika 2 ml asam sulfat ditambahkan dengan 10 tetes n heptana lalu diguncang dihasilkan 2 lapisan pada larutan sampel dimana atasnya bening dan bawah nya keruh.

5. Asam Nitrat
    Pada percobaan ini bahan utama yang digunakan sebagai sampel adalah campuran eter dan asan nitrat. Ketika 4 ml asam nitrat ditambahkan eter larutan masih berwarna bening. Tapi setelah diberi batu didih dan di panaskan larutan mendidih sampai atas dan berwarna kuning pekat (orange) sampai-sampai asap yang ditimbulkan pun berwarna kuning pekat. Penambahan batu didih dengan maksud untuk mempercepat proses pendidihan.  Setelah Mendidih larutan diangkat dan di masukkan kedalam gelas kimia berisi es batu dan setelah larutan dituang larutan berubah menjadi putih keruh dan menghasilkan bau tak enak seperti bau bayclin ( pemutih baju).

6. Bahan Tak Dikenal
    Pada percobaan dilakukan 3 perbandingan. Pertama 1 ml benzena direaksikan 3 ml aquades terbentuk 2 fase yang berwarna jernih. Kedua 1 ml benzena direaksikan dengan 3 ml H2SO4 terbentuk 2 fasa dimana bagian atas bening dan bawah keruh. Ketiga 2 ml benzena ditambahkan dengan 2 ml kloroform terbentulah larutan satu fasa yang jernih.

IX. PERMASALAHAN
Dari percobaan yang telah di lakukan ditemukan 3 permasalahan :
1. Apa pengaruh kondisi ada atau tidaknya cahaya pada percobaan brom dan tetraklorida ?
2. Mengapa pada percobaan kalium permanganat hasil yang didapat ketika KMnO4 di reaksikan dengan n metana dan n heptana berbeda padahal keduanya sama-sama golongan alkana ?
3. Pada percobaan brom hal apa yang menyebabkan larutan sampel dapat menguap seluruhnya ?

X. MANFAAT
 Dari percobaan yang dilakukan bahwa percobaan ini membantu membuktikan serta mengidentifikasi adanya senyawa hidrokarbon melalui reaksi-reaksi yang ditimbulkan.

XI. KESIMPULAN

1. Senyawa Hidrokarbon aifatik (alkana,alkena dan alkuna) dan aromatik memiliki sifat-sifat yang berbeda bergantung pada ikatan rangkap atau kejenuhannya serta reaksinya.
2. Uji Brom akan berhasil jika dalam suasana terang
3. Pengujian senyawa hidrokarbon dilakukan sesuai cara dan teknik analisis.

XII. DAFTAR PUSTAKA

http://syamsurizal.staff.unja.ac.id.
Luktianingsih, Endang, dkk. 2001. Analisis
kandungan senyawa hidrokarbon polisiklik dalam daging olahan. Majalah Farmasi Indonesia. Vol 12. No 3.
Resapi. 1986. Pengantar Kimia Organik Jilid I. Jakarta: Aksara Baru.
Riswiyanto.  2009. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.
Tim kimia organik I. 2020. Penuntun kimia organik I. Jambi : universitas jambi.

XIII. LAMPIRAN

pencampuran larutan eter dengan asam nitrat

Pemanasan campuran larutan

Larutan yang dipanaskan beri warna menjadi kuning

Larutan menjadi orange sampai atas tabung

Ketika dimasukkan ke dalam es larutan menjadi putih keruh





e-komik kimia

e-komik kimia kontekstual ikatan kimia   https://heyzine.com/flip-book/a3ca9a2122.html