Senin, 24 Februari 2020

JURNAL PERCOBAAN 3 PEMURNIAN ZAT PADAT

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020


                               Percobaan III
I. Judul  : PEMURNIAN ZAT PADAT
II. Hari, Tanggal  : RABU,26 FEBRUARI 2020
III. Tujuan : 
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
-  Dapat melakukan cara kristalisasi dengan baik.
-  Dapat memilih pelarut yang sesuai untuk rekristalisasi.
-  Dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan.
-  Dapat memisahkan dan mememurnikan campuran dengan rekristalisasi.

IV. Landasan Teori
      Salah satu cara yang digunakan dalam pemurnian zat padat adalah rekristalisasi. Rekristalisasi merupakan pemisahan suatu unsur dalam bentuk campuran senyawa. Rekristalisasi terjadi bila suatu senyawa dapat larut dalam pelarut tertentu dan saling beraksi dalam suhu tinggi membentuk endapan yang kemudian akan disaring dengan maksud memisahkan endapan dari larutan (Tim penuntun kimia organik 1, 2020).
      Suatu senyawa akan mudah bereaksi dan larut dalam pelarut yang tepat. Untuk itu perlu diperhatikan sifat kimia dan fisik dari senyawa tersebut. Apabila ingin melakukan prmurnian zat padat maka penting untuk mengetahui sifat dan kepolaran senyawa baik yang yang akan di murnikan  ataupun pelarutnya serta dilakukannya sesuai prosedur yang tepat sehingga memudahkan proses pemurnian zat dengan hasil yang akurat (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/). 
      Rekristalisasi merupakan kebalikan dari kristalisasi yaitu suatu cara mendapatkan zat padat dari bentuk yang bukan padatan dalam suatu campuran senyawa. Kristalisasi dapat dilakukan melalui dua cara yaitu dengan lenguapan dengan jalan menaikkan suhu dan pendingin (Yazid, 2010).
       Rekristalisasi juga bertujuan untuk memisahkan padatan dari kotoran yang mungkin terikut maka disebut sebagai suatu proses pemurnian zat namun dalam bentuk padatan. Untuk itu sangat perlu diperhatikan pelarut yang cocok seperti mudah dipisahkan, beda kelarutan yang tinggi serta tidak meninggalkan zat pengotor yang akan di bersihkan dari zat tersebut (Agustina, dkk, 2013).
        Pada proses rekristalisasi suatu zat suhu merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Bila konsentrasi zatnya besar namun suhunya rendah maka akan terjadi pengendapan. Namun bila suhunya tinggi mungkin saja semua zat dapat larut atau meninggalakan lebih sedikit endapan di bandingkan suhunya yang rendah (Arsyad, 2001)

VI. Prosedur Kerja
6.1 Prosedur percobaan rekristalisasi
1. Tuangkan 50 ml air suling kedalm gelas kimia 100 ml, panaskan hingga timbul gelembung-gelembung.
2. Masukkan 0,5 gram asam benzoat tercemar kedalam gelas kimia 100 ml yang lain, tambhakan air panas tersebut sedikit demi sedikit sampai diaduk hingga larut semua.
3. Dengan menggunakan corong buchner sering campuran tersebut dalam keadaaan panas dan tampung filtratnya dalam gelas kimia. Siramlah endapan yang tertinggal dengan air panas. Jenuhkan, dinginkan hingga terbentuk kristal. Apabila pada pendingin tidak terbentuk kristal, dinginkan dalam es.
4. Saring kristal yang terbentuk dengan corong buchner, keringkan.
5. Uji titik leleh dan bentuk kristalnya, bandingkan dengan data yang ada dalam handbook.

6.2 Sublimasi
1. Masukkan 1-2 gram naftalen tercemari kedalam cawan penguap.
2. Tutup permukaan cawan penguap dengan kertas saring yang telah dibuat lobang-lobang kecil.
3. Sumbat corong dengan gelas wool atau kapas
4. Letakkan cawan tersebut diatas kasa pembakar, nyalakan api dan panaskan dengan nyala api kecil.
5. Hentikan semua pembakaran setelah semua zat yang akan disublimasikan habis (lebih kurang 5 menit).
6. Kumpulkan zat yang ada pada kertas saring dan corong bila ada, uji titik leleh dan bentuk kristalnya, cocokkan dengan data handbook.

Vidio : https://www.youtube.com/watch?v=
PERMASALAHAN
1. Mengapa pada percobaan sublimasi corong harus di sumbat
2. Mengapa pada percobaan rekristalisasi campuran harus di saring dalam keadaan panas ?
3. Mengapa pada percobaan rekristalisasi air suling yang di panaskan harus sampai timbul gelembung ?

Selasa, 18 Februari 2020

LAPORAM PERCOBAAN 2 KALIBRASI TERMOMETER DAN PENENTUAN TITIK LELEH

Laporan Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh

                       
                   

NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMB
2020


Prosedur kerja dapat dilihat dari link ini : lisnaslbn28.blogspot.com

VII. DATA PENGAMATAN 
7.1 Kalibrasi Termometer
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Termometer dimasukkan ke labu erlenmyer yang berisi air dan es lalu ditutup dengan gabus.
Didapatlah suhu telah konstan pada suhu 0 ˚C
2
Termometer dimasukkan ke labu erlenmeyer yang ditutup dengan gabus lalu dipanaskan sampai mendidih.
Suhu semakin naik dan didapatlah suhu konstan 100 ˚C

7.2 Penentuan Titik Leleh
No
Nama Senyawa Murni
Suhu saat ingin meleleh sampai meleleh seluruhnya
1
Naftalen
78 - 84  ˚C
2
Glukosa
 120 - 140 ˚C
3
Beta-naftol
105 - 115  ˚C
4
Asam Benzoat
98 - 150  ˚C
5
Maltosa
105 - 107 ˚C 

No
Senyawa Campuran
Perbandingan senyawa campuran



1 : 1
1 : 3
3 : 1
1
Naftalen : Glukosa
100 -148  ˚C
148 - 155  ˚C
130 - 146  ˚C

2
Glukosa : Beta -Naftol
130 -140  ˚C
146 - 150  ˚C
138 - 149  ˚C

3
Beta : Asam Benzoat
88 - 92  ˚C
90 - 103  ˚C
85 - 120  ˚C

4
Asam Benzoat : Maltosa
110 - 120  ˚C
100 - 155  ˚C
97 - 135  ˚C

5
Maltosa : Naftalen
120 - 122  ˚C
110 - 114 ˚C
113 - 115 ˚C


7.3 Demonstrasi Titik Leleh Dengan MPA ( Melting Point Apparatus )
NO
Nama Senyawa Murni
Suhu saat ingin meleleh sampai meleleh seluruhnya
1
Naftalen
80 - 110 ˚C
2
Glukosa
160 - 180  ˚C
3
Betha-naftol
110 - 115 ˚C
4
Asam Benzoat
115 - 120 ˚C
5
Maltosa
90 - 102 ˚C


VIII. PEMBAHASAN
     Seperti yang telah kita ketahui bahwa termometer merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur suhu suatu zat baik suatu zat yang berwujdud cair, padat maupun gas. Termometer yang baik dan layak digunakan sangat membantu dalam mendapatkan data suhu secara benar karena jika alat tersebut masih baik maka akan berfungsi dengan benar terhadap suatu perlakuan. Untuk itu perlu dilakukannya suatu penataan ulang pengukuran terhadap termometer tersebut yang disebut sebagai kalibrasi termometer melalui tata cara prosedur kalibrasi (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/).
1. Kalibrasi termometer
    Pada percobaan ini diambil semua alat dan bahan yang perlukan lalu di lakukan sesuai prosedur. Setelah es batu di campur sedikit air di masukkan kedalam labu erlenmeyer maka termometer dengan wadah tertutup langsung mengukur suhunya dan didapatkan suhu konstan nya adalah 0 ˚C . Setelah itu dengan cara yang sama dilakukan pengukuran suhu terhadap air biasa dan didapatlah suhunya 25  ˚C.  Dan yang terakhir pada air panas didapat suhu konstannya 100 ˚C . Pada percobaan ini di simpulkan bahwa termometer yang kami kalibrasi masih layak digunakan karena menunjukkan suhu yang tepat untuk senyawa murni ( air) pada tekanan 1 atm.
2. Penentuan Titik Leleh
    Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap titik leleh murni senyawa beberapa sampel yaitu glukosa, asam benzoat, naftalen, Betha-naftol dan maltosa. Dari hasil percobaan yang dilakukan secara manual dimana sampel murni dalam pipa kapiler dimasukkan kedalam minyak goreng panas yang dibarengi dengan termometer didalam maka didapatlah titik leleh senyawa murni naftalen 74-84 ˚C, glukosa 120 - 140˚C, maltosa 105 -107 ˚C, asam benzoat 98- 150 ˚C dan Betha naftol 105-115˚C.
   Kemudian setelah didapatkan titik leleh dari masing-masing sampel senyawa murni nya maka di lakukan juh percobaan untuk mengetahui titik leleh dari dua sampel yang berbeda dengan perbandingan 1:1, 1:3 dan 3:1. Untuk naftalen : glukosa berturut-turut titik lelehnya adalah 100 - 148, 148 - 145 dan 130 - 146. Glukosa : Betha-naftol berturut-turut 130 - 140, 146 - 150, dan 138- 149. Betha-naftol : asam benzoat berturut-turut 88 - 92, 90 - 103, dan 85 - 120. Asam benzoat : maltosa berturut-turut 110 - 120, 100 - 155 dan 97 - 135. Maltosa : naftalen berturut-turut 120 - 122, 110 - 114 dan 113 - 115 ˚C
3. Demonstrasi Titik Leleh dengan MPA. 
  Melting ponit aparatus adalah alat yang digunakan untuk mengetahui titik leleh suatu samoel (zat) dengan tepat. Untuk itu, Setelah dilakukannya dua percobaan diatas maka dilakukan kembali percobaan dengan menggunakan melting point aparatus untuk melihat kebenaran dan perbandingan titik leleh dari sampel yang dilakukan secara manual. Setelah dilakukan percobaan dengan alat ini ternyata didapatkan titik leleh senyawa glukosa murni adalah 160 - 180, maltosa 90 - 102, Betha-naftol 110-115, asam benzoat 115-120 dan naftalen 80 - 110 ˚C. Dari alat yang digunakan lebih mendekati titik leleh dari senyawa yang sebenarnya. Sementara dari percobaan secara manual jauh berbeda dengan titik leleh senyawa sampel pada umumnya, untuk itu disimpulkan terjadi kesalahan saat melakukan praktikum dan yang paling mungkin disebabkan oleh tutup ( isolasi) sampel saat dipanaskan yang kurang rapat (terisolasi).

IX. PERTANYAAN PASCA
1. Mengapa sampel dalam pipa kapiler dipanaskan dalam minyak bukan pada air mendidih saja ?
2. Mengapa sampel harus dalam bentuk serbuk bukan padatan apakah ketika sampel tidak dalam bentuk serbuk akan mempengaruhi titik leleh ?
3. Mengapa saat melakukan percobaan pipa kapiler yang berisi sampel harus tertutup (terisolasi) ?
Vidio percobaan dapat di lihat pada link ini :
https://youtu.be/GXdzPjlEhXg

X. MANFAAT
    Dari percobaan kalibrasi termometer dan Penentuan Titik leleh dapat mengetahui cara mengkalibrasi termometer dan mengetahui titik leleh dari senyawa tak murni serta mengetahui bahwa titik leleh senyawa murni akan lebih tinggi dari titik leleh senyawa tak murni dikarenakan adanya suatu zat yang terkandung.

XI. KESIMPULAN
1. Titik leleh senyawa murni berada dalam
tekanan 1 atm pada suhu dimana fase padat sama dengan fase cair.
2. Kalibrasi termometer dapat dilakukan dengan mengukur suhu air panas, es batu dan air biasa.
3. Titik leleh senyawa tak murni akan lebih rendah dari senyawa murni karena terdapat suatu zat di dalamnya.
4. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan titik leleh senyawa murni naftalen 78-84 ˚C, glukosa 120 - 140˚C, Betha-naftol 105-115 ˚C, asam benzoat 98-150 ˚C dan maltosa 105-107 ˚C.

XII. DAFTAR PUSTAKA
  • Bethax. 2010. Kalibrasi termometer. Yogyakarta : Rineka cipta.
  • Cahyono. 2010. Pemanfaatan limbah dari zat kotoran sapi. Jurnal kimia teknik lingkungan. Vol 4, nomor 1.
  • http://syamsurizal.staff.unja.ac.id.
  • Jamal, udin.2007. Kimia analitik kuantitatif. Jakarta : Erlangga.
  • Tim kimia organik 1. 2016. Penuntun praktikum kimia organik 1. Jambi : universitas jambi.

XIII. LAMPIRAN

Maltosa dan naftalen dengan perbandingan 3:1 dalam pipa kapiler

Kalibrasi termometer dengan menggunakan es batu
Penentuan Titik leleh sampel secara manual

Kalibrasi termometer dengan air panas yang disisihkan
 Penghalusan sampel agar mudah di masukkan ke dalam pipa kapiler.


Senin, 10 Februari 2020

JURNAL PERCOBAAN 2 KALIBRASI TERMOMETER DAN PENENTUAN TITIK LELEH


 PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020



                               Percobaan II
I. Judul  : Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh
II. Hari, Tanggal  : RABU,12  FEBRUARI 2020
III. Tujuan : 
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu:
1. Mengetahui prinsip- prinsip dasar penentuan titik leleh senyawa murni.
2. Dapat melakukan kalibrasi termometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni.
3. Dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murni denga senyawa yang tidak murni.
4. Dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel.

IV. Landasan Teori
      Seperti yang telah umum diketahui bahwa termometer adalah alat ukur suhu yang berfungsi dalam mengukur suhu baik pada fase cair, gas maupun padatan. Dengan adanya termometer sangat membantu dalam mengetahui suhu dari suatu zat. Agar termometer bekerja dengan fungsi yang seharusnya secara tepat maka diperlukannya penataan ulang yang sering disebut dengan kalibrasi dengan maksud supaya dapat diketahui apakah termometer masih bisa bekerja baik atau tidak yang di lakukan melalui prosedur kalibrasi termometer (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/).
      Suatu rancangan yang sudah teruji kebenarannya untuk menghasilkan data yang akurat sesuai ketentuan dari pihak yang bertanggung jawab biasa di maknai dengan Kalibrasi. Kalibrasi dilakukan untuk mengetahui tingkat ketelitian dan membandingkannya dengan standar yang di akui. Kalibrasi biasa di lakukan pada alat dan bahan yang telah terverifikasi (Jamal, 2007)
      Ketika transisi padat cair meleleh itu lah awal trayek sampai akhirnya seluruh padatan mencair. Berikut ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya pelelehan dari suatu zat, yaitu : ukuran kristal,  semakin besar padatan dari suatu zat maka akan semakin sulit zat itu untuk meleleh. Jumlah sampel, ketika sampel nya sedikit maka semakin cepat terjadi pelelehan dan sebaliknya. Dan perlu di ketahui semakin tinggi suhu maka pelelehan semakin mudah terjadi (cahyono, 2010).
     Termometer tersusun atas pipa kapiler dengan cairan raksa di dalamnya yang di lapisi oleh kaca. Biasanya skala yang digunakan termometer adalah derajat celcius untuk mengetahui nilai sebagai besaran yang di tunjukkan termometer. Nol adalah titik terendah dimana disebut titik beku dan titik tertinggi adalah 100 disebut titik didih (Bethax, 2010).
      Ketika suatu zat padat mengalami pemanasan maka ikatan antar molekul di dalamnya akan terputus sesuai kenaikan suhu. Ikatan antar molekul ini terjadi karna adanya gaya gravitasi dan elektrostatik yang mengikatnya dalam bentuk kisi yang teratur. Seiring dengan berlangsungnya pemanasan hal ini akan menyebabkan kenaikan energi kinetik dari molekul dan menyebabkan molekul akan putus karna terus bergerak (Tim Kimia Organik I, 2016).

V. Alat dan Bahan
5.1 Alat
  • - Labu erlenmeyer      
  • - Termometer                         
  • - Pemanas                              
  • - Pipa gelas kapiler                             
  • - Stick
5.2 Bahan
  • - Es batu                     
  • - Air                                       
  • - Gabus                                                        
  • - Sampel zat murni
  • - kertas milimeter
  • - alfa naftol
VI. Prosedur Kerja
3.1 Kalibrasi Termometer
1. Buat campuran bubuk es dan air dalam labu erlenmeyer 250 ml sehingga 2/5 bagian volumenya terisi.
2. Masukkan termometer hingga ujungnya menyentuh campuran es + air, sumbatlah mulut labu erlenmeyer tersebut dengan gabus, sehingga campuran tersebut terisolasi dari udara luar.
3. Catat batas bawah skala termometer tersebut.
4. Angkatlah termometer dan ulangi prosedur a-c tersebut.
5. Rancang kembali alat dengan mengisi 2/5 bagian erlenmeyer dengan aquades.
6. Masukkan termometer hingga tepat 1 cm diatas permukaan air, sumbat dan usahkan termometer berada pasa posisi tegak/vertikal.
7. Lakukan pemanasan dan catat suhu saat air mulai mendidih dan suhu tidak naik-naik lagi (konstan).
8. Ulangi prosedur c-g sekali lagi.

3.2 Penentuan Titik Leleh
1. Ambil pipa gelas kapiler, lalu bakar ujung sehingga tertutup.
2. Masukkan sampel zat murni atau campuran dari ujung lainnya. Lalu padatkan dengan batuan stick yang berlobang tengahnya. Tinggi sampel dalam pipa kapiler tidak lebih dari 2 mm.
3. Kemudian pipa kapiler yang telah berisi sampel tersebut diikatkan denga menggunakan benang (bagian ujung bawah termometer).
4. Masukkan alat tersebut kedalam erlenmeyer yang telah diisi air atau minya (tergantung tinggi TL zat tersebut) dengan mengisi 2/3 erlenmeyer dan sumbat dengan gabus mulut erlenmeyer.
5. Panaskan perangkat alat ini secara perlahan dan catat suhu saat tepat zat meleleh sehingga semua zat meleleh.
6. Lakukan prosedur a-e sebanyak dua kali untuk tiap sampel yang diberikan. Sampel murni terdiri dari naftalen, glukosa, alpha-naftol, asam benzoat dan maltosa.
7. Dengan cara yang sama tentukan titik leleh campuran dua senyawa dengan porsi 1:1, 1:3, dan 3:1. Gambarkan titik autentik yang diperoleh. Untuk hasil yang baik, gambarkan titik autentik pada kertas millimeter blok, gambarkan titik autentik pada kertas millimeter block (kertas grafik).

3.3 Demonstrasi Titik Leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus)
     Alat ini khusus digunakan untuk penetuan titik leleh dengan menggunakan sumber panasnya listrik dan skala suhu ditunjukkan oleh sinyal digital.
1. Sampel yang akan ditentukan titik lelehnya ditempatkan pada pipa gelas kapiler setebal lebih kurang 2mm.
2. Pipa kapiler ini akan ditempatkan alat bagian atas. 
3. Ada 3 lubang yang diamternya 3 mm, lubang tengah untuk pipa kapiler yang berisi sampel dan dua lubang lain dengan pipa kapiler kosong.

Cuplikan vidio youtube
://www.youtube.com/watch?v=xaQUTlruvFU
Permasalahan :
1. Pada vidio di atas terlihat termometer di ikat dan di beri gantungan. Mengapa termometer tidak dipegang langsung saja ? Mungkinkah berpengaruh ?
2. Pada kalibrasi termometer  digunakan es batu. Mengapa harus es batu ? Adakah bahan lain yang dapat menggantikannya ?
3. Berdasarkan vidio di atas bagaimana melihat bahwa termometer yang telah di kalibrasi layak atau tidak untuk di gunakan ?

Senin, 03 Februari 2020

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 PERCOBAAN 1


Laporan Analisa Kualitatif unsur-unsur zat organik dan penentuan kelarutan


                       
                   

NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001



DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                             2020

       Untuk prosedur percobaan dapat di lihat pada : https://lisnaslbn28.blogspot.com/2020/01/praktikum-kimia-organik-1_61.html


   VII. Data pengamatan
7.1 Analisa Unsur
7.1.1  Penentuan Karbon dan Hidrogen
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
1,2 gram CuO dikeringkan dan dipanaskan dalam cawan porselen
Tidak mengalami  perubahan apapun 
2
Dicampurkan 1/10 gula dari jumlah CuO
Tidak mengalami  reaksi apapun
3
Dihubungkan dengan pipa Kedalam tabung yang berisi 10 ml Ca(OH)
Terbentuknya gas dan uap air pada pipa dan tabung reaksi tanda adanya hidrogen dan carbon.

7.1.2 Halogen
a. Test Beilstein
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
Dipijarkan kawat tembaga
Warna berubah menjadi putih yang awalnya kemerah merahan
2
Sebelum dipijarkan kembali diberikan 2 tetes CCl4
Terlihat warna nyala api biru keungu unguan bercampur kuning kemerah merahan dan kawat tembaga berwarna orange
b. Test CaO
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
Dipanaskan kulit telur dan ditetesi dengan 2 tetes n heksanon
Mengeluarkan bau yang sangat tidak enak 
2
Didihkan 5 ml air suling dan dicampur dengan kulit telur kemudian ditambah HNO3
Air menjadi keruh dan ketika ditambahkan HNO3 timbul gelembung dan air kembali jernih.

7.2 Metode Leburan Natrium
A. Belerang
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
Larutan L dengan HCl, didihkan. Lihat apakah ada gas dengan kertas saring yang diberi Pb asetat10%
Warna larutan bening dan larutan naik membasahi kertas  saring dan terbentuk seperti lapisan minyak
2
Larutan L yang lain, ditambahkan 1-2 tetes Na-Nitroprosida
Saat ditambahkan Na-Nitroprosida larutan terdapat endapan putih

B. Nitrogen
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
3 ml larutan L + 5 tetes FeSO4, 1 tets FeCl3, 5 tetes KF 10%. 
Saat ditambahkan FeSO4, FeCl3 dan KF ternyata larutan menjadi biru donker dan terdapat endapan 
2
Didingin kan dan diberi asam sulfat encer (20-25 %) didiamkan.
Larutan menjadi hitam dan terdapat endapan biru tua

C. Halogen
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
Diasamkan 3 ml larutan L dengan HNO3 encer
Larutan mendidih.
2
Larutan ditambah AgNOencer (5-10%), didihkan.
Terbentuk endapan kecoklatan

7.3 Penentuan Kelas Kelarutan
7.3.1 Kelarutan dalam Air
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
0,1 gram gula + 3 ml air suling 
 Larutan gula jernih (+)
2
0,1 gram tepung + 3 ml air suling 
 larutan kanji keruh (-)
3
3 tetes minyak + 3 ml air suling 
Larutan jernih dan ada batasan air dengan minyak (+)
4

5
3 tetes putih telur + 3 ml air suling 
0.1 gram garam + 3 ml air suling 
Larutan keruh (-)

larutan keruh (-)

7.3.2 Kelarutan dalam Eter (Benzen)
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
0,1 gram gula + 3 ml eter
larutan gula jernih (+)
2
Tepung kanji
 -
3
3 tetes minyak + 3 tetes eter
larutan jernih (+)
4
5
Putih telur
 garam 


7.3.3 Kelarutan dalam NaOH 5%
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
0,1 gram gula + NaOH 5 % 
-
2
0,1 gram tepung + NaOH 5% 
keruh
3
3 tetes minyak + NaOH 5% 
-
4

5
3 tetes putih telur + NaOH 5%

0.1 gram garam + NaOH 5%
Larutan menjadi jernih dan ada warna merah jambu (+)

7.3.4 Kelarutan dalam NaHCO3 5%
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
Gula
-
2
0,1 gram tepung + NaHNO3
Keruh, ada endapan dan ada gelembung
3
Minyak
-
4

5
3 tetes putih telur + NaHCO3
0.1 gram garam + NaHCO3
Larutan jernih dan ada busa (+)

7.3.5 Kelarutan dalam HCL
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
Gula
-
2
0,1 gram tepung + HCl
Larutan keruh (-)
3
Minyak 
4
5
3 tetes putih telur + HCl
0.1 gram garam +HCl
Larutan keruh dan ada endapan (-)

7.3.6 Kelarutan dalam H2SO4
No
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1
0,1 gram gula +H2SO4
-
2
0,1 gram tepung + H2SO4
Panas, menjadi hitam dan ada endapan 
3
3 tetes minyak + H2SO4
-
4
5
3 tetes putih telur + H2SO4
0.1 Gram garam + H2SO4
Menjadi keruh kekuningan

7.3.7 Kelarutan dalam H3PO4
No
Langkah kerja
Hasil Pengamatan
1
0,1 gram gula + H3PO4
-
2
0,1 gram tepung + H3PO4
Larutan jernih (+)
3
3 tetes minyak + H3PO4
-
4

5
3 tetes putih telur + dengan H3PO4
0.1 gram garam + H3PO4
Larutan jernih (+)

VIII. Pembahasan
Senyawa organik dan unsur-unsur penyusunnya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Maka dari itu dibutuhkannya identifikasi unsur dalam suatu senyawa sehingga dapat diketahui unsur yang terkandung dalam suatu sampel senyawa disamping  itu juga dapat diketahui bagaimana kelarutannya dalam pelarut tertentu (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id)
7.1. Analisa Unsur
7.1.1. Penentuan Karbon dan Hidrogen.
       Pada praktikum yang dilakukan sesuai prosedur pengerjaan dalam analisis unsur karbon dan hidrogen digunakan serbuk CuO yang dipanaskan dan dicampur dengan gula lalu dihubungkan dengan gelas kimia berisi Ca(OH)2 melalui pipa pengalir. Pada saat serbuk CuO dipanaskan bersama gula campuran menjadi warna hitam menandakan adanya unsur karbon dan Pada pipa kemudian terlihat adanya gelembung gas (uap) dan asap pada gelas kimia adanya uap tersebut menandakan adanya unsur hidrogen pada campuran senyawa.
7.1.2. Halogen
      Pada analisis halogen dilakukan dua jenis percobaan dengan perlakuan berbeda yaitu :
a. Tes Beilstein.
Pada percobaan ini kawat tembaga yang dibakar sampai merah didinginkan kemudian diberi CCl4 dan dibakar lagi kemudian terbentuklah warna biru keunguan serta merah kekuningan pada nyala bunsen.
b. Tes CaO.
Pada percobaanini digunakan kulit telur dalam tabung reaksi yang dibakar pada bunsen dan ditetesi dengan n heksanon yang ternyata menimbulkan mau yang menyengat tak sedap. Kemudian kulit telur ditambahkan air suling dan menjadi keruh lalu diberi HNO3 tiga dan pada akhir percobaan terlihat adanya gelembung dan kembali jernih.
7.2. Metode Leburan dengan Natrium
Pada percobaan ini dilakukan analisis unsur Belerang, Nitrogen dan Halogen namun terlebih dahulu dibuat Larutan Lassaigne dari logam Na. Pada percobaan ini dilakukan beberapa tes yaitu :
a. Belerang
Pada tes belerang larutan L diasamkan dengan asam asetat lalu dipanaskan dan ditutup dengan kertas saring yang di basahi Pb-asetat 10% dan ternyata timbul gas dan seperti lapisan minyak pada kertas saring. Lalu di tetes oleh Na nitroprosida dan terbentuk endapan putih.
b. Nitrogen
Pada tes nitrogen larutan L ditambah dengan FeSO4, FeCl3, KF 10% dan NaOH 10% lalu di didihkan. Ternyata larutan menjadi biru donker sebelum dididihkan namun setelah dipanaskan  dan ditambah asam asetat larutan menjadi hitam dan terdapat endapan biru tua. Warna biru pada endapan menandakan adanya unsur Nitrogen.
c. Halogen
Pada tes halogen larutan L di asamkan dengan HNO3.mungkin akan terbentuk HCN atau H2S yang dapat mengganggu pembentukan halogen int itu di lakukan pemanasan agar unsur tersebut hilang lalu di tambahkan AgNO3 ternyata pada akhir percobaan terdapat endapan abu-abu kecoklatan. Endapan ini menandakan adanya unsur halogen.
7.3. Penentuan Kelas Kelarutan
    Pada percobaan ini digunakan 5 sampel berbeda untuk melihat tingkat kelarutan suatu zat  dari jernih (+) atau keruhnya (-) sampel yang di reaksikan oleh pelarut berbeda. Sampelnya yaitu gula, garam, tepung , minyak dan putih telur.
1. Kelarutan dalam Air
Kedalam masing-masing tabung reaksi dimasukkan masing-masing Zat berbeda dan diberi 3 ml air suling dan setelah di kocok ternyata yang bisa larut sempurna dan jernih adalah gula  (+), minyak tetap jernih (+) tapi terdapat batas karena perbedan kepolaran anatara air dan minyak sementara garam larut namun keruh (-) sementara tepung, putih telur sukar larut dan keruh (-).
2. Kelarutan dalam eter (benzena)
Cara yang dilakukan sama seperti pada air hanya saja pelarutnya di ganti eter khusus untuk larutan yang jernih dari percobaan 1 yaitu gula dan minyak dan hasilnya tetap jernih (+) yang artian larut.
3. Kelarutan dalam NaOH 5%
Dengan cara yang sama didapatkan bahwa tepung yang dicampur dengan NaOH menjadi keruh dan putih telur yang di campur dengan NaOH menjadi jernih (+) dan ada met jambunya.
4. Kelarutan pada NaHCO3 5%
Dengan cara yang sama diperoleh bahwa hanya tepung dan putih telur yang di tambahkan NaHCO3 yang menghasilkan gas (gelembung) CO2.
5. Kelarutan pada HCl
Dari percobaan yang di lakukan semua sampel yang direaksikan dengan HCl menjadi keruh kecuali tepung yang disertai endapan.
6. Kelarutan pada H2SO4 pekat
Dari percobaan yang dilakukan pada sampel ternyata campuran pada tepung menjadi warna hitam pekat dan pada putih telur menjadi keruh kekuningan.
7. Kelarutan pada H3PO4 pekat
Berdasarkan percobaan yang di lakukan terhadap sampel. Sampel yang di campurkan dengan H3PO4 menjadi bening /jernih (+) larut.

IX. Pertanyaan Pasca
1. Mengapa tidak semua zat dapat larut pada pelarut yang sama pada penentuan kelas kelarutan ?
2. Bagaimana zat pengotor mempengaruhi keberhasilan percobaan dalam menunjukan warna yang seharusnya timbul ?
3. Apa yang menyebabkan adanya gumpalan (endapan) saat putih telur ditambahkan dengan HCl ?

Vidio percobaan yang dilakukan dapat di lihat dari : https://youtu.be/E5MGzrYkZmUX.

X. Manfaat
Percobaan analisis kualitatif ini dapat membantu untuk memepermudah mengetahui adanya kandungan suatu unsur dalam suatu sampel yang tidak diketahui (unknow) serta dapat memahami seberapa larutnya suatu zat dalam pelarut tertentu.

XI. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil
1. Analisa Kualitatif merupakan cara yang dapat di gunakan untuk mengidentifikasi keberadaan suatu unsur dalam senyawa melalui berbagai percobaan.
2. Digunakannya serbuk CuO sebagai campuran untuk menentukan adanya keberadaan karbon , hidrogen dan halogen. sementara untuk mengidentifikasi adanya belerang, nitrogen dan halogen digunakan larutan L pada percobaan Lassaigne serta larutnya zarut dalam berbagai jenis pelaut untuk menentukan kelas kelarutannya.
3. Beberapa senyawa unknow (yang tidak diketahui) dapat digunakan dalam percobaan ini . Seperti menentukan keberadaan belerang dari sampel kulit telur.

XII. Daftar pustaka
  • http://syamsurizal.staff.unja.ac.id.analisis-kualitatif-senyawa-organik/. Diakses pada 27 januari 2020, 21.30.
  • Rejeki, Sri. 2014. Distribusi kandungan karbon organik total dan fosfat di perairan sayung. Demak : Jurnal Oseanografi. Vol 3, nomor 1.
  • Sahidin, dkk. 2011. Penuntun Praktikum kimia organik farmasi. Unhalu : kendari.
  • Vogel. 1985. Analisis Anorganik kualitatif makro dan semimakro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.
XIII. Lampiran Gambar

Pengaliran gas pada analisis unsur karbon dan Hidrogen

Penambahan 3 ml eter pada larutan gula 

Pembakaran kulit telur dalam tabung reaksi

Pemanasan serbuk CuO + gula dalam cawan porselen

Kulit telur yang telah dibakar dilarutkan dan ditambah HNO3


e-komik kimia

e-komik kimia kontekstual ikatan kimia   https://heyzine.com/flip-book/a3ca9a2122.html