Laporan Analisa Kualitatif unsur-unsur zat organik dan penentuan kelarutan
NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
Untuk prosedur percobaan dapat di lihat pada : https://lisnaslbn28.blogspot.com/2020/01/praktikum-kimia-organik-1_61.html
VII. Data pengamatan
7.1 Analisa Unsur
7.1.1 Penentuan Karbon dan Hidrogen
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
1,2 gram CuO dikeringkan dan dipanaskan dalam cawan porselen
|
Tidak mengalami perubahan apapun
|
2
|
Dicampurkan 1/10 gula dari jumlah CuO
|
Tidak mengalami reaksi apapun
|
3
|
Dihubungkan dengan pipa Kedalam tabung yang berisi 10 ml Ca(OH)2
|
Terbentuknya gas dan uap air pada pipa dan tabung reaksi tanda adanya hidrogen dan carbon.
|
7.1.2 Halogen
a. Test Beilstein
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
Dipijarkan kawat tembaga
|
Warna berubah menjadi putih yang awalnya kemerah merahan
|
2
|
Sebelum dipijarkan kembali diberikan 2 tetes CCl4
|
Terlihat warna nyala api biru keungu unguan bercampur kuning kemerah merahan dan kawat tembaga berwarna orange
|
b. Test CaO
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
Dipanaskan kulit telur dan ditetesi dengan 2 tetes n heksanon
|
Mengeluarkan bau yang sangat tidak enak
|
2
|
Didihkan 5 ml air suling dan dicampur dengan kulit telur kemudian ditambah HNO3
|
Air menjadi keruh dan ketika ditambahkan HNO3 timbul gelembung dan air kembali jernih.
|
7.2 Metode Leburan Natrium
A. Belerang
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
Larutan L dengan HCl, didihkan. Lihat apakah ada gas dengan kertas saring yang diberi Pb asetat10%
|
Warna larutan bening dan larutan naik membasahi kertas saring dan terbentuk seperti lapisan minyak
|
2
|
Larutan L yang lain, ditambahkan 1-2 tetes Na-Nitroprosida
|
Saat ditambahkan Na-Nitroprosida larutan terdapat endapan putih
|
B. Nitrogen
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
3 ml larutan L + 5 tetes FeSO4, 1 tets FeCl3, 5 tetes KF 10%.
|
Saat ditambahkan FeSO4, FeCl3 dan KF ternyata larutan menjadi biru donker dan terdapat endapan
|
2
|
Didingin kan dan diberi asam sulfat encer (20-25 %) didiamkan.
|
Larutan menjadi hitam dan terdapat endapan biru tua
|
C. Halogen
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
Diasamkan 3 ml larutan L dengan HNO3 encer
|
Larutan mendidih.
|
2
|
Larutan ditambah AgNO3 encer (5-10%), didihkan.
|
Terbentuk endapan kecoklatan
|
7.3 Penentuan Kelas Kelarutan
7.3.1 Kelarutan dalam Air
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
0,1 gram gula + 3 ml air suling
|
Larutan gula jernih (+)
|
2
|
0,1 gram tepung + 3 ml air suling
|
larutan kanji keruh (-)
|
3
|
3 tetes minyak + 3 ml air suling
|
Larutan jernih dan ada batasan air dengan minyak (+)
|
4
5 |
3 tetes putih telur + 3 ml air suling
0.1 gram garam + 3 ml air suling |
Larutan keruh (-)
larutan keruh (-) |
7.3.2 Kelarutan dalam Eter (Benzen)
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
0,1 gram gula + 3 ml eter
|
larutan gula jernih (+)
|
2
|
Tepung kanji
|
-
|
3
|
3 tetes minyak + 3 tetes eter
|
larutan jernih (+)
|
4
5 |
Putih telur
garam |
-
- |
7.3.3 Kelarutan dalam NaOH 5%
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
0,1 gram gula + NaOH 5 %
|
-
|
2
|
0,1 gram tepung + NaOH 5%
|
keruh
|
3
|
3 tetes minyak + NaOH 5%
|
-
|
4
5 |
3 tetes putih telur + NaOH 5%
0.1 gram garam + NaOH 5% |
Larutan menjadi jernih dan ada warna merah jambu (+)
|
7.3.4 Kelarutan dalam NaHCO3 5%
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
Gula
|
-
|
2
|
0,1 gram tepung + NaHNO3
|
Keruh, ada endapan dan ada gelembung
|
3
|
Minyak
|
-
|
4
5 | 3 tetes putih telur + NaHCO3 0.1 gram garam + NaHCO3 |
Larutan jernih dan ada busa (+)
|
7.3.5 Kelarutan dalam HCL
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
Gula
|
-
|
2
|
0,1 gram tepung + HCl
|
Larutan keruh (-)
|
3
|
Minyak
|
-
|
4
5 |
3 tetes putih telur + HCl
0.1 gram garam +HCl |
Larutan keruh dan ada endapan (-)
|
7.3.6 Kelarutan dalam H2SO4
No
|
Langkah Kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
0,1 gram gula +H2SO4
|
-
|
2
|
0,1 gram tepung + H2SO4
|
Panas, menjadi hitam dan ada endapan
|
3
| 3 tetes minyak + H2SO4 |
-
|
4
5 |
3 tetes putih telur + H2SO4
0.1 Gram garam + H2SO4 |
Menjadi keruh kekuningan
|
7.3.7 Kelarutan dalam H3PO4
No
|
Langkah kerja
|
Hasil Pengamatan
|
1
|
0,1 gram gula + H3PO4
|
-
|
2
|
0,1 gram tepung + H3PO4
|
Larutan jernih (+)
|
3
|
3 tetes minyak + H3PO4
|
-
|
4
5 |
3 tetes putih telur + dengan H3PO4
0.1 gram garam + H3PO4 |
Larutan jernih (+)
|
VIII. Pembahasan
Senyawa organik dan unsur-unsur penyusunnya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Maka dari itu dibutuhkannya identifikasi unsur dalam suatu senyawa sehingga dapat diketahui unsur yang terkandung dalam suatu sampel senyawa disamping itu juga dapat diketahui bagaimana kelarutannya dalam pelarut tertentu (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id)
7.1. Analisa Unsur
7.1.1. Penentuan Karbon dan Hidrogen.
Pada praktikum yang dilakukan sesuai prosedur pengerjaan dalam analisis unsur karbon dan hidrogen digunakan serbuk CuO yang dipanaskan dan dicampur dengan gula lalu dihubungkan dengan gelas kimia berisi Ca(OH)2 melalui pipa pengalir. Pada saat serbuk CuO dipanaskan bersama gula campuran menjadi warna hitam menandakan adanya unsur karbon dan Pada pipa kemudian terlihat adanya gelembung gas (uap) dan asap pada gelas kimia adanya uap tersebut menandakan adanya unsur hidrogen pada campuran senyawa.
7.1.2. Halogen
Pada analisis halogen dilakukan dua jenis percobaan dengan perlakuan berbeda yaitu :
a. Tes Beilstein.
Pada percobaan ini kawat tembaga yang dibakar sampai merah didinginkan kemudian diberi CCl4 dan dibakar lagi kemudian terbentuklah warna biru keunguan serta merah kekuningan pada nyala bunsen.
b. Tes CaO.
Pada percobaanini digunakan kulit telur dalam tabung reaksi yang dibakar pada bunsen dan ditetesi dengan n heksanon yang ternyata menimbulkan mau yang menyengat tak sedap. Kemudian kulit telur ditambahkan air suling dan menjadi keruh lalu diberi HNO3 tiga dan pada akhir percobaan terlihat adanya gelembung dan kembali jernih.
7.2. Metode Leburan dengan Natrium
Pada percobaan ini dilakukan analisis unsur Belerang, Nitrogen dan Halogen namun terlebih dahulu dibuat Larutan Lassaigne dari logam Na. Pada percobaan ini dilakukan beberapa tes yaitu :
a. Belerang
Pada tes belerang larutan L diasamkan dengan asam asetat lalu dipanaskan dan ditutup dengan kertas saring yang di basahi Pb-asetat 10% dan ternyata timbul gas dan seperti lapisan minyak pada kertas saring. Lalu di tetes oleh Na nitroprosida dan terbentuk endapan putih.
b. Nitrogen
Pada tes nitrogen larutan L ditambah dengan FeSO4, FeCl3, KF 10% dan NaOH 10% lalu di didihkan. Ternyata larutan menjadi biru donker sebelum dididihkan namun setelah dipanaskan dan ditambah asam asetat larutan menjadi hitam dan terdapat endapan biru tua. Warna biru pada endapan menandakan adanya unsur Nitrogen.
c. Halogen
Pada tes halogen larutan L di asamkan dengan HNO3.mungkin akan terbentuk HCN atau H2S yang dapat mengganggu pembentukan halogen int itu di lakukan pemanasan agar unsur tersebut hilang lalu di tambahkan AgNO3 ternyata pada akhir percobaan terdapat endapan abu-abu kecoklatan. Endapan ini menandakan adanya unsur halogen.
7.3. Penentuan Kelas Kelarutan
Pada percobaan ini digunakan 5 sampel berbeda untuk melihat tingkat kelarutan suatu zat dari jernih (+) atau keruhnya (-) sampel yang di reaksikan oleh pelarut berbeda. Sampelnya yaitu gula, garam, tepung , minyak dan putih telur.
1. Kelarutan dalam Air
Kedalam masing-masing tabung reaksi dimasukkan masing-masing Zat berbeda dan diberi 3 ml air suling dan setelah di kocok ternyata yang bisa larut sempurna dan jernih adalah gula (+), minyak tetap jernih (+) tapi terdapat batas karena perbedan kepolaran anatara air dan minyak sementara garam larut namun keruh (-) sementara tepung, putih telur sukar larut dan keruh (-).
2. Kelarutan dalam eter (benzena)
Cara yang dilakukan sama seperti pada air hanya saja pelarutnya di ganti eter khusus untuk larutan yang jernih dari percobaan 1 yaitu gula dan minyak dan hasilnya tetap jernih (+) yang artian larut.
3. Kelarutan dalam NaOH 5%
Dengan cara yang sama didapatkan bahwa tepung yang dicampur dengan NaOH menjadi keruh dan putih telur yang di campur dengan NaOH menjadi jernih (+) dan ada met jambunya.
4. Kelarutan pada NaHCO3 5%
Dengan cara yang sama diperoleh bahwa hanya tepung dan putih telur yang di tambahkan NaHCO3 yang menghasilkan gas (gelembung) CO2.
5. Kelarutan pada HCl
Dari percobaan yang di lakukan semua sampel yang direaksikan dengan HCl menjadi keruh kecuali tepung yang disertai endapan.
6. Kelarutan pada H2SO4 pekat
Dari percobaan yang dilakukan pada sampel ternyata campuran pada tepung menjadi warna hitam pekat dan pada putih telur menjadi keruh kekuningan.
7. Kelarutan pada H3PO4 pekat
Berdasarkan percobaan yang di lakukan terhadap sampel. Sampel yang di campurkan dengan H3PO4 menjadi bening /jernih (+) larut.
IX. Pertanyaan Pasca
1. Mengapa tidak semua zat dapat larut pada pelarut yang sama pada penentuan kelas kelarutan ?
2. Bagaimana zat pengotor mempengaruhi keberhasilan percobaan dalam menunjukan warna yang seharusnya timbul ?
3. Apa yang menyebabkan adanya gumpalan (endapan) saat putih telur ditambahkan dengan HCl ?
Vidio percobaan yang dilakukan dapat di lihat dari : https://youtu.be/E5MGzrYkZmUX.
X. Manfaat
Percobaan analisis kualitatif ini dapat membantu untuk memepermudah mengetahui adanya kandungan suatu unsur dalam suatu sampel yang tidak diketahui (unknow) serta dapat memahami seberapa larutnya suatu zat dalam pelarut tertentu.
XI. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil
1. Analisa Kualitatif merupakan cara yang dapat di gunakan untuk mengidentifikasi keberadaan suatu unsur dalam senyawa melalui berbagai percobaan.
2. Digunakannya serbuk CuO sebagai campuran untuk menentukan adanya keberadaan karbon , hidrogen dan halogen. sementara untuk mengidentifikasi adanya belerang, nitrogen dan halogen digunakan larutan L pada percobaan Lassaigne serta larutnya zarut dalam berbagai jenis pelaut untuk menentukan kelas kelarutannya.
3. Beberapa senyawa unknow (yang tidak diketahui) dapat digunakan dalam percobaan ini . Seperti menentukan keberadaan belerang dari sampel kulit telur.
XII. Daftar pustaka
Senyawa organik dan unsur-unsur penyusunnya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Maka dari itu dibutuhkannya identifikasi unsur dalam suatu senyawa sehingga dapat diketahui unsur yang terkandung dalam suatu sampel senyawa disamping itu juga dapat diketahui bagaimana kelarutannya dalam pelarut tertentu (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id)
7.1. Analisa Unsur
7.1.1. Penentuan Karbon dan Hidrogen.
Pada praktikum yang dilakukan sesuai prosedur pengerjaan dalam analisis unsur karbon dan hidrogen digunakan serbuk CuO yang dipanaskan dan dicampur dengan gula lalu dihubungkan dengan gelas kimia berisi Ca(OH)2 melalui pipa pengalir. Pada saat serbuk CuO dipanaskan bersama gula campuran menjadi warna hitam menandakan adanya unsur karbon dan Pada pipa kemudian terlihat adanya gelembung gas (uap) dan asap pada gelas kimia adanya uap tersebut menandakan adanya unsur hidrogen pada campuran senyawa.
7.1.2. Halogen
Pada analisis halogen dilakukan dua jenis percobaan dengan perlakuan berbeda yaitu :
a. Tes Beilstein.
Pada percobaan ini kawat tembaga yang dibakar sampai merah didinginkan kemudian diberi CCl4 dan dibakar lagi kemudian terbentuklah warna biru keunguan serta merah kekuningan pada nyala bunsen.
b. Tes CaO.
Pada percobaanini digunakan kulit telur dalam tabung reaksi yang dibakar pada bunsen dan ditetesi dengan n heksanon yang ternyata menimbulkan mau yang menyengat tak sedap. Kemudian kulit telur ditambahkan air suling dan menjadi keruh lalu diberi HNO3 tiga dan pada akhir percobaan terlihat adanya gelembung dan kembali jernih.
7.2. Metode Leburan dengan Natrium
Pada percobaan ini dilakukan analisis unsur Belerang, Nitrogen dan Halogen namun terlebih dahulu dibuat Larutan Lassaigne dari logam Na. Pada percobaan ini dilakukan beberapa tes yaitu :
a. Belerang
Pada tes belerang larutan L diasamkan dengan asam asetat lalu dipanaskan dan ditutup dengan kertas saring yang di basahi Pb-asetat 10% dan ternyata timbul gas dan seperti lapisan minyak pada kertas saring. Lalu di tetes oleh Na nitroprosida dan terbentuk endapan putih.
b. Nitrogen
Pada tes nitrogen larutan L ditambah dengan FeSO4, FeCl3, KF 10% dan NaOH 10% lalu di didihkan. Ternyata larutan menjadi biru donker sebelum dididihkan namun setelah dipanaskan dan ditambah asam asetat larutan menjadi hitam dan terdapat endapan biru tua. Warna biru pada endapan menandakan adanya unsur Nitrogen.
c. Halogen
Pada tes halogen larutan L di asamkan dengan HNO3.mungkin akan terbentuk HCN atau H2S yang dapat mengganggu pembentukan halogen int itu di lakukan pemanasan agar unsur tersebut hilang lalu di tambahkan AgNO3 ternyata pada akhir percobaan terdapat endapan abu-abu kecoklatan. Endapan ini menandakan adanya unsur halogen.
7.3. Penentuan Kelas Kelarutan
Pada percobaan ini digunakan 5 sampel berbeda untuk melihat tingkat kelarutan suatu zat dari jernih (+) atau keruhnya (-) sampel yang di reaksikan oleh pelarut berbeda. Sampelnya yaitu gula, garam, tepung , minyak dan putih telur.
1. Kelarutan dalam Air
Kedalam masing-masing tabung reaksi dimasukkan masing-masing Zat berbeda dan diberi 3 ml air suling dan setelah di kocok ternyata yang bisa larut sempurna dan jernih adalah gula (+), minyak tetap jernih (+) tapi terdapat batas karena perbedan kepolaran anatara air dan minyak sementara garam larut namun keruh (-) sementara tepung, putih telur sukar larut dan keruh (-).
2. Kelarutan dalam eter (benzena)
Cara yang dilakukan sama seperti pada air hanya saja pelarutnya di ganti eter khusus untuk larutan yang jernih dari percobaan 1 yaitu gula dan minyak dan hasilnya tetap jernih (+) yang artian larut.
3. Kelarutan dalam NaOH 5%
Dengan cara yang sama didapatkan bahwa tepung yang dicampur dengan NaOH menjadi keruh dan putih telur yang di campur dengan NaOH menjadi jernih (+) dan ada met jambunya.
4. Kelarutan pada NaHCO3 5%
Dengan cara yang sama diperoleh bahwa hanya tepung dan putih telur yang di tambahkan NaHCO3 yang menghasilkan gas (gelembung) CO2.
5. Kelarutan pada HCl
Dari percobaan yang di lakukan semua sampel yang direaksikan dengan HCl menjadi keruh kecuali tepung yang disertai endapan.
6. Kelarutan pada H2SO4 pekat
Dari percobaan yang dilakukan pada sampel ternyata campuran pada tepung menjadi warna hitam pekat dan pada putih telur menjadi keruh kekuningan.
7. Kelarutan pada H3PO4 pekat
Berdasarkan percobaan yang di lakukan terhadap sampel. Sampel yang di campurkan dengan H3PO4 menjadi bening /jernih (+) larut.
IX. Pertanyaan Pasca
1. Mengapa tidak semua zat dapat larut pada pelarut yang sama pada penentuan kelas kelarutan ?
2. Bagaimana zat pengotor mempengaruhi keberhasilan percobaan dalam menunjukan warna yang seharusnya timbul ?
3. Apa yang menyebabkan adanya gumpalan (endapan) saat putih telur ditambahkan dengan HCl ?
Vidio percobaan yang dilakukan dapat di lihat dari : https://youtu.be/E5MGzrYkZmUX.
X. Manfaat
Percobaan analisis kualitatif ini dapat membantu untuk memepermudah mengetahui adanya kandungan suatu unsur dalam suatu sampel yang tidak diketahui (unknow) serta dapat memahami seberapa larutnya suatu zat dalam pelarut tertentu.
XI. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil
1. Analisa Kualitatif merupakan cara yang dapat di gunakan untuk mengidentifikasi keberadaan suatu unsur dalam senyawa melalui berbagai percobaan.
2. Digunakannya serbuk CuO sebagai campuran untuk menentukan adanya keberadaan karbon , hidrogen dan halogen. sementara untuk mengidentifikasi adanya belerang, nitrogen dan halogen digunakan larutan L pada percobaan Lassaigne serta larutnya zarut dalam berbagai jenis pelaut untuk menentukan kelas kelarutannya.
3. Beberapa senyawa unknow (yang tidak diketahui) dapat digunakan dalam percobaan ini . Seperti menentukan keberadaan belerang dari sampel kulit telur.
XII. Daftar pustaka
- http://syamsurizal.staff.unja.ac.id.analisis-kualitatif-senyawa-organik/. Diakses pada 27 januari 2020, 21.30.
- Rejeki, Sri. 2014. Distribusi kandungan karbon organik total dan fosfat di perairan sayung. Demak : Jurnal Oseanografi. Vol 3, nomor 1.
- Sahidin, dkk. 2011. Penuntun Praktikum kimia organik farmasi. Unhalu : kendari.
- Vogel. 1985. Analisis Anorganik kualitatif makro dan semimakro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka.
XIII. Lampiran Gambar
Pengaliran gas pada analisis unsur karbon dan Hidrogen
Penambahan 3 ml eter pada larutan gula
Pembakaran kulit telur dalam tabung reaksi
Pemanasan serbuk CuO + gula dalam cawan porselen
Kulit telur yang telah dibakar dilarutkan dan ditambah HNO3






Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamualaikum, selamat sore. Perkenalkan nama saya septia misca dalvanny Nim A1C118005 Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 3
BalasHapusJawab :
Timbulnya endapan(gumpalan) pada putih telur setelah ditambahkan HCl adalah dikarenakan terjadinya perubahan PH larutan sehingga PH putih telur menjadi turun dibawah titik minimumnya sehingga ikatan ikatan ionik terputus yang menyebabkan putih telur terpisah dari pelarutnya hal inilah yang menyebabkan putih telur cepat mengendap karena kelarutannya dalam air menjadi berkurang. Terimakasih
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya Sri Oktika Dhijah Gultom(A1C118085) akan menjawab pertanyaan nomor 1. Tidak semua zat dapat larut pada pelarut dalam penentuan kelas kelarutan karena suatu zat baik gas, cair maupun padat mempunyai variasi tertentu dalam melarut, ada yang sukar larut maupun tidak. Sehingga senyawa yang bersifat polar akan mudah larut dalam pelarut yang polar begitu juga sebaliknya.
BalasHapus1. Assalamuaikum wr.wb saya Hesti Nurmelis dengan NIM A1C118090 akan menjawab pertanyaan nomor 2. Zat pengotor sangat berpengaruh terhadap jalannya suatu reaksi untuk mendapatkan suatu hasil. Zat pengotor akan berpengaruh jika masuk kedalam endapan sehingga kadar endapan bertambah dan ini akan meyebabkan terjadinya kesalahan. Banyaknya kandungan zat pengotor akan menghambat jalannya suatu reaksi, baik itu zat pengotor fisik maupun zat pengotor dalam senyawa. Berlaku juga dengan perubahan warna yang seharusnya misanya warna endapannya coklat tetapi yang dihasilkan endapan putih. Ini terjadi akibat terlalu banyak kadungan zat pengotornya. Maka dari itu perlu diakukannya pencucian endapan agar zat pengotor dapat hilang secara mekanis.
BalasHapus