Selasa, 17 Maret 2020

JURNAL PERCOBAAN 5 REAKSI REAKSI ALDEHIDA DAN KETON

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020


I. Judul : Reaksi-reaksi aldehida dan keton
II. Hari, tanggal : Rabu, 18 maret 2020
III. Tujuan
       Adapun tujuan dari percobaan ini ialah :
  1. Memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil
  2. Memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton
  3. Menjelaskan jenis jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton
IV. Landasan Teori
     Gugus fungsi dari senyawa hidrokarbaon seperti aldehid ( RCOH) dan keton( RCOR') memiliki gugus fungsi hampir sama yaitu sama-sama memiliki gugus karbonil. Namun, demikian kedua gugus ini apabila membentuk senyawa memiliki sifat yang berbeda. Dari struktur dapat di lihat bahwa aldehid mengikat atom H pada gugus karbonil sementara keton tidak (Joan, 2011).
     Senyawa hidrokarbon yang mengandung gugus fungsi keton atau aldehid ternyata dapat diidentifukasi dengan penambahan reagensia tertentu. Senyawa yang diberi reagen ( basa + AgNo3) dan mengahsilkan cincin perak maka senyawa tersebut termasuk senyawa aldehid ini disebut uji tollens sementara keton cenderung memberikan bau yang enak (Svehla, 2011).
     Aseton merupakan pelarut yang sangat mudah larut baik pada air maupun senyawa organik maka dari itu wajar jika aseton sering di gunakan sebagai pelarut senyawa hidrokarbon meskipun aseton merupakan pelarut yang bersifat polar ( http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/).
     Menurut Dewan (2015), aldehida dan keton memiliki sifat fisik masing-masing yaitu :
1. Aldehid berbau tengik, berupa cairan pada suhu kamar kecuali HCHO. Keton memiliki bau yang enak, berupa padatan dan tak berwarna.
2. Aldehida titik didihnya lebih tinggi dari keton pada perbandingan yang sama karena aldehid mengikat atom H.
3. Aldehid isomerik titik didihnya lebih rendah dari keton, karena keton terdiri atas gugus alkil yang membuat nya memiliki efek induksi dan lebih polar.
4. gugus alkil ( R ) yang makin banyak membuat senyawa aldehid dan keton sifat polaritasnya rendah. Rantai aldehid dan keton (maks 4 atom karbon) mudah larut dalam air.
     Untuk membedakan antara aldehid dan keton dapat dilakukan dengan uji tollens. Senyawa yang merupakan anggota aldehid akan membentuk cincin perak pada wadah diakhir reaksi sementara keton tidak karena keton tidak bereaksi dengan reagen ini hal ini dikarenakan perbedaan kereaktifan keduanya (Tim kimia organik I, 2020)

V. Alat dan bahan
5.1 alat 
  • Tabung reaksi
  • Pipet tetes
  • Batang pengadil
  • Penangas air
  • Erlenmeyer
  • Termometer
  • Corong buchner
5.2 bahan
  • Asetaldehid
  • NaOH
  • Aquades
  • Ethanol
  • Aseton 
  • iodium iodida
  • HCl
  • Fenilhidrazin 
  • 2,4 dinitrofenilhidrazin 
  • NaHSO3
  • Pereaksi benedict 
  • Pereaksi tollens 
  • AgNO3
  • Benzaldehid 
  • Formalin 
  • Sikloheksanon
  • Kertas saring
VI. Prosedur kerja
6.1 Uji cermin kaca, tollens
1. Disiapkan empat tabung reaksi yang berisi pereaksi tollens ( cara membuat, 2 ml AgNO3 5% + 2 tetes NaOH 5% lalu tambahkan tets demi tetes sambil diaduk larutan amonium hidroksida 2% secukupnya ).
2. Diujilah benzaldehid, aseton, sikloheksanon dan formlin: dengan jalan menambahkan masing- masing dua tetes bahan tersebut ke dalam tabung uji.
3. Diaduklah campuran dan diamkan selama 10 menit dan amatilah apa yang terjadi.

6.2 Ujing fehling dan Benedict
1. masing-masing dari empat tabung reaksi tambahkan 5 ml pereaksi Benedict atau 5 ml pereaksi fehling yang masih fresh.
2. Larutan B = 346 gr natrium kalium tartrat atau garam Rochelle di daam larutan NaOH 10% artinya pereaksi fehling A dan B sama banyak baru dicampur. Ke dalam masing-masing tabung tambahkan beberapa tets bahan yang akan di uji. 3. Ditempatkan tabung reaksi dalam air mendidih selama 10-15 menit. Ujilah formaldehid, n-heptanaldehid, aseton dan sikloheksanon.

6.3 Adisi bisulfit
1. Dimasuklah 5 ml larutan NaHSO3 jenuh ke dalam erlenmeyer 50 ml dan diinginkan larutan dalam air es + 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk. Setelah 5 menit + 10 ml etanol untuk memulai kristalisasi.
2. Disaring kristal denga corong Hirsch. Apa yang akan terjadi bila kristal dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa tets HCL pekat.

6.4 Pengujian dengan fenilhidrazin
1. 5ml fenilhidrazin dalam tabung reaksi besar + 10 ml tetes bahan yang akan di uji.
2. Ditutup tabung reaksi dan guncangkan dengan kuat selama 102 menit hingga mengkristal.
3. Disaring kristal dengan corong hirch, cuci dengan sedikit air dingin dan rekristalisasi dengan sedikit metanol dan etanol.
4. Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya. Lakukan pengujian terhadap benzaldehid dan sikloheksanon. Dengan cara yang sama gunakan 2,4 dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon. Tentukan titik lelehnya.

6.5 pembuatan oksim
1. Larutkan 1 gr hidroksilamin HCL dan 1,5 gr natrium asetat trihidrat di dalam 4 ml air, didalam erlemeyer 50 ml.
2. Dipanaskan larutan sampai 35 derajat celcius + sikloheksanon tutup labu dan goncangkan selama 1-2 menit, pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk.
3. Dinginkan labu dalam lemari es, saring kristal dengan corong hirch, cuci dengan 2ml air es, keringkan dan tentukan titik lelehnya.

6.6 Reaksi haloform
1. 5 tetes aseton dalam 3 ml larutan NaOH 5% + 10 ml larutan iodium iodida sambil digoncang-goncangkan sampai warna coklat tidak hilang lagi.
2. Iodofom yang berwarna kuning akan mengendap dan baunya yang khas. Pengujian dilakukan terhadap isopropanol, 2-pentanon, dan 3-pentanon.

6.7 Kondensasi Aldol
A. 1. 0,5 ml asetaldehid + 4 ml larutan NaOH 1%, goncangkan dan catat baunya.
2. Didihkan campuran reaksi selama 3 menit. Catat hati-hati bau tengik dari krotonaldehid.

B. 1.  Susunlah peralatan untuk merefluks.
2. 50 ml etanol + 1 ml aseton + 2 ml benzaldehid + 5 ml larutan NaOH 5% campuran di refluks selama 5 menit.
3. Dinginkan labu dan kumpulkan krital dengan corong buchner, bisa di rekristalisasi dengan etanol. Tentukan titik lelehnya.


Permasalahan 
1. Mengapa pada beberapa percobaan perlu dilakukan pengocokan. Bukankah apabila zat sudah dicampurkan semua telah bereaksi sempurna ?
2. Pada test sodium bisulfat setelah di tetesi komponen organik larutan di tutup. Adakah pengaruh lain jika larutan tidak di tutup ?
3. Saat penetesan NaOH pada larutan m dinitrobenzena terjadi perubahan warna. Apakah NaOH dapat di gantikan oleh bahan lain ? 

Selasa, 10 Maret 2020

LAPORAN PERCOBAAN 4 REAKSI REAKSI HIDROKARBON



PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020



Untuk prosedur kerja dapat dilihat pada jurnal percobaan 4 di link ini : lisnaslbn28.blogspot.com

VII. DATA PENGAMATAN

1. Brom dan Karbon tetraklorida
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
1 ml alkana + 15 ml Brom dikocok dan diletakkan ditempat gelap dan ditutup
Warna larutan kuning lebih jernih
1 ml alkana + 15 ml Brom dikocok dan diletakkan ditempat terang dan ditutup
Warna larutan kuning gelap 

1 ml dietil eter + 15 ml Brom digoncang dan ditiup  
Terdapat L1 eter dan L2 Brom dan menimbulkan asap
1 ml dietil eter + 15 tetes benzena digoncang dan ditiup
Terdapat asap dan larutan menjadi keruh
2
1 ml minyak jelantah+ 3 ml H2SO4 digoncang

3 ml benzena + 1 ml H2SO4
Warna minyak yang kuning keruh menjadi hitam

Terbentuk 2 lapisan atas yang bening dan Lapisan bawah keruh.
3
3 ml kloroform + 1 ml minyak jelantah digoncang

3 ml air + 1 ml minyak jelantah digoncang
Warna larutan kuning keruh


Terbentuk L2 kuning keruh  dan L1 bening diantaranya ada gelembung.
              
2. Brom
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1


2
Tabung I 1 ml benzena + 3 tetes Brom 
Larutan menjadi kuning dibagian atas dan di bawahnya bening.
Larutan dipanaskan
Semua larutan menguap dan tak bersisa
Tabung 2 benzena + paku  + 3 tetes brom
terlihat warna kuning agak pudar pada larutan
 Larutan dianaskan
Larutan masih tersisa 

3. Larutan Kalium Permanganat
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1



2


3

4


5
Tabung Reaksi I di masukan 1 ml KMnO4 + 5 tetes n metana kemudian di goncangkan

Tabung reaksi II dimasukkan 1 ml KMnO4 + 5 tetes n heksana


Tabung reaksi III dimasukkan 1 ml KMnO4 + 5 tetes n heptana 
Dalam larutan ada warna kecoklatan



Larutan menjadi warna ungu tampak kemerahan

Larutan menjadi warna ungu pekat
Tabung Reaksi IV dimasukkan 1 ml KMnO4 + 5 tetes benzena



Tabung reaksi V dimasukan 1 ml KMnO4 + 5 tetes eter
Warna larutan tetap tapi terbentuk 2 lapisan

Larutan menjadi warna ungu kemerahan

4. Asam Sulfat Pekat
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1


2
2 ml asam sulfat pekat + 10 tetes eter lalu di guncang.

2 ml H2SO4 + 10 tetes n heptana lalu di kocok
larutan menjadi warna jingga dan terasa panas saat dikocok

Larutan tidak larut sehingga terbentuk 2 lapisan atas yang bening dan lapisan bawah agak keruh

5. Asam Nitrat
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
2

3

4
 4 ml asam nitrat + eter
Warnanya larutan bening
Ditabahkan batu didih kedalam tabung reaksi lalu dipanaskan
Warna larutan berubah menjadi kuning pekat (orange) dan mendidih sampai keluar tabung
Dituangkan kedalam gelas kimia berisi batu es 
Larutan berubah menjadi warna putih keruh
Diamati bau yang timbul
Bau larutan seperti bau bayclin (pemutih baju)

6. Bahan Tak dikenal
NO
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
3 ml aquades + 1 ml benzena lalu dikocok
Terdapat 2 fasa yang berwarna jernih bagian atas dan bawah 
2
3 ml H2SO4 + 1 ml benzena
Terdapat 2 fasa, dibawah bening dan bagian atas keruh
3
2 ml benzena + 2 ml kloroform
Larutan menjadi satu fasa dimana larutannya jernih dan terdapat sedikit 

VIII. PEMBAHASAN

         Senyawa hidrokarbon yang direaksikan dengan unsur lain akan dapat berubah sifatnya meski demikian itu tetap merupakan senyawa turunan hidrokarbon. Contohnya adalah alkil halida yang terbentuk dari reaksi antara senyawa hidrokarbon dan unsur halogen (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id)
            Pada praktikum ini dilakukan 6 percobaan berdasarkan cara kerja untuk mengidentifikasi reaksi- reaksi senyawa hidrokarbon yang terjadi.
1. Brom dan tetraklorida
    Pada percobaan ini dilakukan 4 percobaan, yang pertama 1 ml alkana di reaksikan dengan 15 ml Brom ditutup hanya saja dibuat 2 perbandingan kondisi yaitu diletakkan pada tempat gelap dan terang. Sampel yang diletakan di tempat terang berubah menjadi warna kuning lebih jernih sementara yang ditempat gelap menjadi kuning lebih gelap. Percobaan kedua 1 ml dietil eter di reaksikan dengan 15 ml Brom dan ditabung yang lain dengan 1 ml alkana di reaksikan dengan 15 tetes benzena ternyata memberikan reaksi yang berbeda dimana pada 15 ml Brom dihasilkan 2 lapisan yaitu L1 eter dan L2 Brom juga menimbulkan asap. Sementara pada 15 tetes benzena larutan hanya berubah menjadi putih keruh meski sama-sama menimbulkan asap. Pada percobaan ke 3 dimana 1 ml minyak jelantah yang ditambahkan dengan 3 ml H2SO4 mengalami perubahan dimana warna kuning minyak jelantah menjadi warna gelap sementara pada penambahan 3 ml benzena ke dalam 1 ml H2SO4 terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan atas bening dan bawah keruh. Pada percobaan ke 4  3 ml kloroform yang direaksikan dengan 1 ml minyak jelantah menghasilkan warna kuning yang keruh sementara  Pada penambahan 3 ml air dalam 1 ml minyak jelantah terbentuk L2 kuning keruh dan L1 jernih dan diantara keduanya terdapat gelembung.

2. Brom

    Pada percobaan ini dilakukan 2 perbandingan dalam 2 tabung reaksi berbeda. Pada tabung I  1 ml benzena yang direaksikan dengan 3 tetes Brom ternyata semua larutan menguap dan tak tersisa larutan pada tabung saat di panaskan. Sementara pada tabung II benzena yang diberi 3 tetes brom dimasukan sebuah paku, sehingga pada larutan terlihat warna kuning pudar dan ketika dilakukan pemanasan dalam tabung reaksi masih tersisa larutan sampel.

3. Larutan kalium permanganat

    Pada percobaan ini dilakukan 5 perbandingan sampel yang sama-sama di reaksikan dengan KMnO4. Pada tabung I ditambahkan dengan 5 tetes n metana menghasilkan warna larutan yang ada warna kecoklatannya. Pada tabung II ditambahkan 5 tetes n heksana menghasilkan larutan warna ungu tampak kemerahan. Pada tabung III ditambahkan 5 tetes n heptana menghasilkan warna ungu pekat. Pada tabung IV ditambahkan 5 tetes benzena dan pada larutan terbentuk 2 lapisan sementara pada tabung V yang ditambahakan 5 tetes eter di hasilkan larutan bewarna ungu kemerahan.

4. Asam Sulfat Pekat
    Pada percobaan ini 2 ml asam sulfat yang direaksikan dengan 10 tetes eter menghasilkan larutan yang berwarna jingga dan mengahsilkan panas ketika diguncang. Sementara ketika 2 ml asam sulfat ditambahkan dengan 10 tetes n heptana lalu diguncang dihasilkan 2 lapisan pada larutan sampel dimana atasnya bening dan bawah nya keruh.

5. Asam Nitrat
    Pada percobaan ini bahan utama yang digunakan sebagai sampel adalah campuran eter dan asan nitrat. Ketika 4 ml asam nitrat ditambahkan eter larutan masih berwarna bening. Tapi setelah diberi batu didih dan di panaskan larutan mendidih sampai atas dan berwarna kuning pekat (orange) sampai-sampai asap yang ditimbulkan pun berwarna kuning pekat. Penambahan batu didih dengan maksud untuk mempercepat proses pendidihan.  Setelah Mendidih larutan diangkat dan di masukkan kedalam gelas kimia berisi es batu dan setelah larutan dituang larutan berubah menjadi putih keruh dan menghasilkan bau tak enak seperti bau bayclin ( pemutih baju).

6. Bahan Tak Dikenal
    Pada percobaan dilakukan 3 perbandingan. Pertama 1 ml benzena direaksikan 3 ml aquades terbentuk 2 fase yang berwarna jernih. Kedua 1 ml benzena direaksikan dengan 3 ml H2SO4 terbentuk 2 fasa dimana bagian atas bening dan bawah keruh. Ketiga 2 ml benzena ditambahkan dengan 2 ml kloroform terbentulah larutan satu fasa yang jernih.

IX. PERMASALAHAN
Dari percobaan yang telah di lakukan ditemukan 3 permasalahan :
1. Apa pengaruh kondisi ada atau tidaknya cahaya pada percobaan brom dan tetraklorida ?
2. Mengapa pada percobaan kalium permanganat hasil yang didapat ketika KMnO4 di reaksikan dengan n metana dan n heptana berbeda padahal keduanya sama-sama golongan alkana ?
3. Pada percobaan brom hal apa yang menyebabkan larutan sampel dapat menguap seluruhnya ?

X. MANFAAT
 Dari percobaan yang dilakukan bahwa percobaan ini membantu membuktikan serta mengidentifikasi adanya senyawa hidrokarbon melalui reaksi-reaksi yang ditimbulkan.

XI. KESIMPULAN

1. Senyawa Hidrokarbon aifatik (alkana,alkena dan alkuna) dan aromatik memiliki sifat-sifat yang berbeda bergantung pada ikatan rangkap atau kejenuhannya serta reaksinya.
2. Uji Brom akan berhasil jika dalam suasana terang
3. Pengujian senyawa hidrokarbon dilakukan sesuai cara dan teknik analisis.

XII. DAFTAR PUSTAKA

http://syamsurizal.staff.unja.ac.id.
Luktianingsih, Endang, dkk. 2001. Analisis
kandungan senyawa hidrokarbon polisiklik dalam daging olahan. Majalah Farmasi Indonesia. Vol 12. No 3.
Resapi. 1986. Pengantar Kimia Organik Jilid I. Jakarta: Aksara Baru.
Riswiyanto.  2009. Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.
Tim kimia organik I. 2020. Penuntun kimia organik I. Jambi : universitas jambi.

XIII. LAMPIRAN

pencampuran larutan eter dengan asam nitrat

Pemanasan campuran larutan

Larutan yang dipanaskan beri warna menjadi kuning

Larutan menjadi orange sampai atas tabung

Ketika dimasukkan ke dalam es larutan menjadi putih keruh





Senin, 02 Maret 2020

JURNAL PERCOBAAN 4 REAKSI REAKSI HIDROKARBON

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020


                               Percobaan IV
I. Judul  : REAKSI-REAKSI HIDROKARBON
II. Hari, Tanggal  : RABU 4 MARET 2020
III. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu :
1. Untuk memahami perbedaan sifat-sifat kimia hidrokarbon alifatik jenuh dan tak jenuh dan aromatik.
2. Untuk memahami jenis reaksi kimia untuk membedakan ketiga golongan senyawa hidrokarbon.
3. Untuk memahami cara dan teknik pengujian ketiga golongan senyawa hidrokarbon.

IV. Landasan teori
      Pada rekasi substitusi senyawa hidrokarbon dapat digantikan ikatannya menjadi akil halida melalui reaksi pemanasan sebesar 4500C atau di bawah sinar UV dan bila bereaksi dengan asam halida maka ikatannya akan terputus hal ini dinamakan reaksi adisi. Rantai senyawa hidrokarbon yang lurus bisa saja berubah menjsdi bercabang bila ditambahkan katalis yang disebut sebagai isomerasi(http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/).
     Senyawa hidrokarbon seperti alkana, alkena dan lakunya memiliki banyak fungsi yang berbeda beda. Senyawa alkana digunakan sebagai bahan bakar sementara alkena dan alkuna digunakan sebagai bahan pembuat plastik dan parafin (lilin) atau perekasi awal dalam senyawa dan lain sebagainya (Riswiyanto, 2009).
     Hidrokarbon aromatik memiliki ciri dimana molekulnya berbentuk cincin (siklik) yang didasarkan pada aturan aromatisitas. Senyawa aromatik terdiri atas homo monosiklik (satu rantai cincin yang sama) dan homo polisiklik (dua rantai cincin atau lebih yang sama). Biasanya Senyawa hidrokarbon poli aromatik didapat dari oksidasi bahan bakar fosil (Lukitaningsih, dkk, 2001).
      Hidrokarbon merupakan senyawa organik yang terdiri atas unsur H dan C. Senyawa organik yang hanya tersusun dari karbon dan hidrogen disebut dengan Hidrokarbon. Senyawa organik terdiri atas senyawa aromatik ( senyawa lingkar seperti benzena) dan alifatik ( alkana, alkena dan alkuna) yang dibedakan atas strukturnya. Alkana berikatan tunggal, aklena berikatan rangkap 2 dan alkuna berikatan rangkap 3. Semakin banyak rangkap maka senyawanya makin tak jenuh maka dari itu alkana lebih jenuh dari alkena dan alkuna. Alkuna akan cepat berekasi bila ada cahaya.( penuntun praktikum kimia organik I, 2020).
      Untuk mengetahui mengetahui struktur suatu senyawa anorganik terlebih dahulu di tentukan rumus empiris dan rumus molekulnya. Pengoksidasian terhadap suatu senyawa organik merupakan salah satu cara untuk mengetahui unsur yang terkandung dalam senyawa terutama untuk C dan H barulah zat hasilnya diidentifikasi (Respati, 1986).

V. Alat dan Bahan
5.1   Alat
1. Tabung Reaksi 
2. Gelas Piala
3. Termometer
4. Pipet Tetes
5. Gelas Kimia
6.  Buret
5.2   Bahan
1. Alkuna
2. Sikloheksana (alkena)
3. Brom/CCl4
4. Benzena
5. Besi
6. Kalium Permanganat 
7. Asam Sulfat 
8. Asam Nitrat
9. Batu Didih
10. Es batu
11.  Aquades
12. Kertas lakmus

VI. Prosedur Kerja 
6.1 Brom dalam karbon tetraklorida
1. 1 ml alkana dalam tabung reaksi berbeda ditambah 10-15 tetes brom/CCl4 lalu diguncang
2. Diletakkan pada tempat gelap dan terkena sinar matahari lalu bandingkan
3. Ditiup masing-masing mulut tabung untuk mengenal hidrogen bromida yang akan menimbulkan asap bila ada hidrogen bromida. Hidrogen bromida dapat pula diuji dengan cara memegang sehelai kertas lakmus yang lembab pada mulut masing-masing tabung reaksi
4. Didalam tabung reaksi yang berisi 1 ml sikloheksana (alkena) kemudian ditambahkan 10-15 tetes brom/CCl4 lalu goncang tabung dan diamati hasilnya. Diuji bila kemungkinan adanya pengeluaran hidrogen bromida
5. Didalam suatu tabung reaksi yang berisi 1 ml benzena ditambahkan 1 ml brom dalam   karbon tetraklorida lalu goncang dan diamati hasilnya.
6.2 Brom
1. Ditempatkan 1 ml benzena kedalam suatu tabung reaksi. Lalu dimasukkan beberapa potongan besi kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 1 ml benzena, digunakan benzena untuk menurunkan potongan besi yang menepel pada dinding tabung dan diberi 3 tets brom (dari suatu buret di dalam lemari asam) pada setiap tabung reaksi
2. Ditempatkan masing-masing tabung didalam gelas piala yang berisi air panas (500C) selama 15 menit dan amatilah warna masing-masing tabung, apakah ada atau tidak hidrogen bromida dibebaskan lalu catat hasilnya.
6.3 Larutan Kalium Permanganat
1.Didalam dua tabung reaksi, dimasukkan masing-masing 1 ml larutan kalium permanganat (0,5 %) + 5 tetes alkana ke tabung yang satu dan 5 tetes sikloheksana ketabung yang lain lalu goyangkan masing-masing tabung dengan baik selama 1-2 menit dan dicatat hasilnya
2. Pada tabung reaksi ketiga dimasukkan 1 ml benzena dan ditambahkan 2 ml larutan kalium permanganat, digoncang, dan diamati hasilnya
6.4. Asam Sulfat Pekat
1. Ditempatkan masing-masing 2 ml asam sulfat pekat pada 2 tabung. Lalu yang satu diberi 10 tetes alkana dan yang satu lagi beri 10 tetes sikloheksana.
2. Masing- masing tabung digoncang dan catat hasil pengamatan.
6.5. Asam Nitrat
1. Pada tabung reaksi diisi 0,5 ml benzena + 4 ml asam nitrat + 1 butir batu didih lalu didihkan selama 2 menit (sampai homogen).
2. Perhatikan secara benar. Lalu tuang larutan ke gelas piala berisi 5-10 gram es dan catat bau yang di hasilkan dan bandingkan.

Link vidio : https://youtu.be/corK32rU-84
Permasalahan :
1. Pada vidio diatas adakah oksidator lain yang dapat digunakan selain KMnO4 ?
2. Dalam setiap percobaan tabung harus digoncang. Apa pengaruh pengocokan pada percobaan ? Bukankah larutan akan tetap bereaksi meski tidak digoncang ?
3. Pada vidio diatas mengapa digunakan minyak goreng ?

LAPORAN PERCOBAAN 3 PEMURNIAN ZAT PADAT

PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I


                       
                   


NAMA : LISNA WIRANTI
NIM: A1C118001


DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
                                       2020


Prosedur pengerjaan dapat dilihat pada  :
lisnaslbn28.blogspot.com

VII. Data Pengamatan
Rekristalisasi 
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
Dipanaskan 50 ml air suling dalam gelas kimia
Air mendidih dan ada gelembung
2
Dimasukkan asam benzoat + glukosa + arang
Terbentuk asam benzoat tercemar
Sampel di larutkan dalam air panas
Larutan terbentuk warna hitam
Sampel disaring dengan kertas saring
Didapatkan Kristal yang berubah jadi putih 
Kristal yang dihasilkan
Kristal banyak





3
Diukur titik lelehnya dengan MPA
Titik leleh dari kristal yang di dapat 100, 3 derajat celcius.
Sublimasi 
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1
1-2 gr naftalen + pasir ditutup oleh kertas saring yang telah dibolongi kecil lalu ditutup diatas dengan corong yang telah disumbat dengan kapas lalu dipanaskan 
Naftalen yang tercemar ketika di panaskan menguap pada kertas saring tanda naftalen menyublim dan terbentuk kristal pada corong 
2
Kristal yang terbentuk di masukkan dalam pipa kapiler dan diuji titik lelehnya
Titik leleh awalnya 82 dan titik leleh akhirnya 85 derajat celcius.

VIII. Pembahasan
         Apabila ingin melakukan pemurnian zat padat maka penting untuk mengetahui sifat dan kepolaran senyawa baik yang yang akan di murnikan  ataupun pelarutnya serta dilakukannya sesuai prosedur yang tepat sehingga memudahkan proses pemurnian zat dengan hasil yang akurat (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/). 
1. Reristalisasi
    Pada percobaan rekristalisasi ini digunakan asam benzoat yang dicemari dengan penambahan glukosa dan arang. Ketika asam benzoat yang tercemar dilarutkan dengan air panas terbentuk larutan kental berwarna hitam. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk memurnikan asam benzoat yang tercemar tadi terpisah dari zat pengotornya ( glukosa dan arang). Setelah dilarutkan dengan air panas selanjutnya sampel disaring dengan kertas saring dan didapatkan kristalnya setelah itu di lakukan pengujian titik lelehnya. Namun titik leleh dari asam benzoat yang di dapat adalah 100, 3 derajat celcius. Ternyata titik leleh ini tidak sesuai dengan titik leleh murni asam benzoat. Hal ini terjadi karena adanya kesalahan dalam praktikum saat dilakukan penyaringan pada kertas saring.
2. Sublimasi
    Pada percobaan sublimasi  ini digunakan naftalen yang ditambahkan dengan pasir, dianggaplah bahwa naftalen telah tercemar oleh pasir. Naftalen yang tercemar dalam casan penguap ini kemudian ditutup dengan kertas saring dan juga corong lalu di panaskan. Ketika pemanasan berlangsung uap naftalen membasahi kertas saring menandakan telah terjadinya penyubliman pada naftalen yang dipanaskan. Pada corong pun terbentuk kristal bening mengilap yang kemudian dimasukan ke dalam pipa kapiler untuk di uji titik lelehnya dengan MPA. Lalu di dapatlah titik leleh awal naftalen 82 derajat celcius dan titik leleh akhirnya 85 derajat celcius. Dari titik leleh yang di dapat ternyata titik leleh naftalen terlalu besar nilainya padahal titik leleh naftalen murni adalah 80 derajat celcius ini menandakan bahwa masih ada zat pengotor yang terikut dan kristal naftalen belum murni seutuhnya.

Link vidio praktikum : https://youtu.be/ECzyeEXqG1Y

IX. Permasalahan
1. Mengapa saat percobaan kertas saring harus di beri lobang (dilubangi) ?
2. Apa guna penyumbatan corong dengan kapas pada percobaan ?
3. Mengapa setelah didapat kristal harus di uji titik lelehnya ?

X.  Manfaat
      Dengan dilakukannya percobaan ini dapat membantu memahami cara dan proses rekristalisasi dan sublimasi pada suatu larutan dalam memisahkan ataupun memurnikan suatu larutan.

XI. Kesimpulan
1. Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian suatu zat padat. Rekristalisasi yang baik adalah jika dapat dihasilkan zat murni dan zat pengotornya tidak terikut.
2. Pelarut pada proses rekristalisasi harus sesuai dengan zat sampelnya, jika sampelnya organik maka pelarutnya pun harus organik.
3. Menghilangkan warna larutan sampel supaya jernih bisa di lakukan dengan penambahan nurut.
4. Pemisahan dan pemurnian campuran zat sampel dengan cara rekristalisasi dilakukan dengan melarutkannya pada pelarut yang sesuai lalu disaring selagi panas agar terpisah antara endapan dan larutan.

XII. Daftar Pustaka
  • Agustina, Rositawati,dkk. 2013. Rekristalisasi                   garam rakyat dari daerah demak untuk                     mencapai ANI garam industri. Jurnal                           teknologi kimia dan industri. Vol 2. No 4.
  • Arsyat, M.Natsir. 2001. Kamus kimia arti dan                     penjelasan istilah. Jakarta : Gramedia.
  • http:// syamsurizal.staff.unja.ac.id
  • Tim penuntun kimia organik I. 2020. Penuntun                 kimia organik I. Jambi : Universitas jambi.
  • Yazid. 2010. Kimia fisika untuk para medis.                         Yogyakarta : UNY press.


XIII. Lampiran
                        Kristal kaca pada corong

Cawan penguap yang ditutup dengan kertas  saring

Pemanasan sampel

Pengukuran titik leleh dengan termometer

massa Sampel yang di timbang




e-komik kimia

e-komik kimia kontekstual ikatan kimia   https://heyzine.com/flip-book/a3ca9a2122.html